Saski Harus Digendong Sang Nenek ke Sekolah

Karena kondisi kakinya seperti itu, Saski tak pernah bermain seperti layaknya anak-anak, ia lebih banyak tinggal di rumah panggung milik neneknya itu.

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, BANDUNG - Saski Kirana Nur Wahyuni (10) harus berjuang dengan rasa sakit di kedua kakinya. Sejak usia enam tahun anak semata wayang Sinta Sonjaya dan Wahyu yang sudah bercerai ini tak bisa berjalan karena virus polio.

Namun semangat untuk sekolah Saski yang tinggal di Kampung Pasir Peti, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan ini sangat tinggi.

"Kalau dipakai berdiri kaki ini sakit sehingga harus terus digendong kalau ingin berpindah tempat," kata Saski saat ditemui di rumahnya, Rabu (16/10/2013).

Karena kondisi kakinya seperti itu, Saski tak pernah bermain seperti layaknya anak-anak, ia lebih banyak tinggal di rumah panggung milik neneknya itu. Kedua kaki anak berparas manis ini cacat dan terlihat tulangnya bengkok-bekok di bagian kaki.

"Sebelumnya ketika usia enam tahun masih bisa berjalan tapi ketika berjalan kakinya membentur meja kemudian jatuh dan ternyata kakinya bengkak. Kemudian dibawa ke dokter dan ternyata sampai sekarang tak bisa berjalan," kata Halimah (65), nenek Saski, kemarin.

Ia mengaku mengurus cucunya setelah kedua orang tuanya bercerai dan kini ibunya bekerja di Bandung. "Saya yang merawatnya dan setiap hari sejak kelas satu sampai kelas empat Madrasah Ibtidaiyah (MI)," kata Halimah.

Setiap hari, neneknya ini menggendong Saski sejauh hampir 3 km menuju sekolahnya di MI Negeri Ciguling yang ada di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Sumedang Selatan. Halimah harus meniti jalan yang naik turun dari rumahnya ke sekolah di kawasan pegunungan Kareumbi ini.

"Setiap hari jalan kaki saja, kalau ada ojek yang kenal dan searah ke sekolah kerap dibawa juga," kata Halimah yang menyebutkan cucunya itu berdasar keterangan dokter terkena pengeroposan tulang.

Saski mengaku ia ingin terus sekolah karena ingin menjadi guru. "Saya ingin terus sekolah dan nanti mau jadi guru," kata Saski yang menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA ini.

Di sekolahnya, Saski juga berprestasi dan kerap mendapat peringkat dua setiap semesternya. Nilai rata-rata di rapornya itu 87,7.

"Anak ini berprestasi, pintar di kelasnya selalu dapat rangking dua. Bahkan sempat menjadi wakil sekolah kami di Kompetisi Pendidikan Agama Islam dan Sains untuk mata pelajaran IPA," kata Ikin Saefudin, Kepala MIN Ciguling.

Namun, terang dia, karena pelajaran IPA banyak praktiknya dan peserta harus sering bergerak membuat Saski tak bisa melanjutkan kompetisi. "Sejak kelas satu selalu digendong neneknya karena tak bisa berjalan. Bahkan kalau neneknya tidak ada di sekolah, kalau ingin jajan atau sekadar keluar kelas ketika istirahat selalu dipangku oleh guru," katanya.

Kepala Desa Margalaksana, Andreyansyah Mochtar menyebutkan Saski lahir di Sumatera ketika kedua orang tuanya merantau dan bekerja di sana. "Anak ini terkena virus polio dan saat sakit dulu tidak dibawa ke dokter tapi malah diurut saja sehingga seperti ini. Orang tuanya sudah bercerai dan sekarang Saski dirawat neneknya," kata Andre.

Ia mengaku saat ini sedang mengupayakan bantuan kursi roda untuk Saski. "Neneknya itu sudah tua dan mengeluh kecapaian kalau terus menggendong cucunya ke sekolah karena jaraknya jauh dan jalannya naik turun," katanya.

Menurutnya, pihak desa sudah mengajukan ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja untuk bisa mendapat bantuan kursi roda.

"Sudah diajukan dan diminta menunggu. Sebetulnya rumah mereka juga masuk kategori tidak layak huni namun karena tinggalnya di tanah negara maka tidak bisa dimasukkan ke program bedah rumah," kata Andre.

Sumber: Tribunnews
Tags
polio
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved