Disertasi Kincir Air Apung, Darmawi Raih Doktor Ilmu Lingkungan
Hydropower biasanya dikenal dari air terjun. Energi yang dihasilkan sedikit tapi berdampak besar
Penulis: Deryardli | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Salah seorang dosen Jurusan Teknik Mesin Unsri kelahiran Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Darmawi, meraih gelar doktor setelah mengembangkan Hydropower, atau energi dari air yang mengalir.
Darmawi lolos dalam ujian promosi doktor dengan membawakan desertasi tentang pengembangan kemandirian energi pedesaan berwawasan lingkungan melalui rancang bangun kincir air apung pada saluran sekunder daerah reklamasi rawa pasang surut.
"Hydropower biasanya dikenal dari air terjun. Energi yang dihasilkan sedikit tapi berdampak besar pada lingkungan jadi rusak. Dunia tengah mengembangkan sumber energi dari arus pasang surut. Maka dibuatlah kincir angin terapung," ujar Darmawi kepada Sripoku.com usai pengukuhan di Aula Doktor Program Pascasarjana Unsri, Selasa (27/8/2013).
Darmawi membuat kincir yang dibangun di atas alas rakit. Ketika air pasang pembangkit tak akan tenggelam dan ketika surut alat itu juga turun mengikuti debit air. Kincir air apung dapat yang dibangun Darmawi berskala kecil namun dapat mengalirkan energi listrik untuk satu rumah.
"Yang dibuat berukuran 90 sentimeter kali 2 meter di saluran sekunder. Itu hanya jadi bagian riset, nantinya bisa dicapai dalam skala besar. Bahkan bisa jadi sumber alternatif di luar listrik, misalnya untuk airasi pada tambak ikan," terangnya.
Menurut Permen ESDM nomor 32 tahun 2012 tarif rumah tangga R1/TR mencapai Rp415 per kwh. Dengan penggunaan kincir air apung, ekivalensi penghematan mencapai Rp324 ribu per tahun.
"Jadi cocok untuk pengembngan kemandirian energi pedesaan yang berwawasan lingkungan. Tidak ada limbah yang dihasilkan, air pun tidak tercemar," tukasnya.