Agar Mulut Tak Bau Saat Puasa

Sisa makanan juga mempermudah berkembangnya bakteri yang bisa menyebabkan penyakit gusi atau gingivitis di dalam mulut.

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM - Puasa dan bau mulut ada kalanya berjalan beriringan. Penjelasannya karena saat puasa, mulut dalam keadaan kering tanpa kehadiran makanan maupun cairan selama 16 jam.

Bau mulut atau halitosis ini sebenarnya bisa disebabkan oleh banyak faktor. Misalnya saja gigi berlubang atau radang gusi. Makanan yang melekat pada gigi di sekitar gusi dan lidah pun bisa memicu terjadinya bau mulut. Makanan yang melekat di gigi, bila tidak dibersihkan dengan sikat gigi dan benang gigi setiap hari, bisa membusuk.

Makanan yang membusuk ini menjadi penyebab dari bau mulut. Sisa makanan juga mempermudah berkembangnya bakteri yang bisa menyebabkan penyakit gusi atau gingivitis di dalam mulut. Bakteri ini akan menghasilkan produk sampingan yaitu sulfida dan amonia. Kondisi inilah yang menimbulkan bau mulut.

Dalam situs University of Maryland Medical Center disebutkan bahwa tanpa menggosok gigi dan membersihkan gigi secara benar dan konsisten, serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin di dokter gigi, sisa makan bisa tetap berada di mulut.

Gigi palsu yang tidak dibersihkan secara benar juga bisa menjadi tempat berkumpulnya sisa makanan. Kondisi ini menarik minat bakteri untuk menetap di gigi palsu. Akhirnya, mulut pun jadi bau.

Di sisi lain, bau mulut juga bisa menjadi pertanda adanya penyakit gusi. Keadaan ini membutuhkan penanganan cepat oleh dokter gigi.

Kondisi mulut kering atau xerostomia, menjadi kontributor pula terhadap halitosis. Hal ini ditandai dengan penurunan produksi air liur yang signifikan. Membuat mulut tak mampu membersihkan daerahnya sendiri dan membuang partikel sisa makanan.

Bau mulut juga bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan. Infeksi paru kronis, sinusitis kronis, penyakit hati atau ginjal, gangguan saluran cerna, serta diabetes merupakan kondisi-kondisi yang bisa menimbulkan bau mulut.

Para perokok memiliki risiko tinggi mengalami bau mulut. Ini karena merokok meningkatkan karbondioksida dan mengurangi kadar oksigen di dalam mulut. Selain kadar oksigen menurun, risiko perokok pun meningkat untuk penyakit periodonti, menurunnya indera pengecapan, serta gusi yang mengalami iritasi.

Tetapi, haruskah puasa selalu diidentikan dengan bau mulut? Jawabnya, tentu tidak! Biar bagaimanapun, agama mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga kebersihan, termasuk kebersihan mulut.

Dianjurkan untuk menggosok gigi usai sahur dan malam hari sebelum tidur. Selain menggosok gigi, gunakan pula benang gigi (dental floss) untuk membersihkan sela-sela gigi usai menyikat gigi. Agar sisa makanan tidak banyak menumpuk di sana.

Sementara itu, bagi mereka yang giginya berlubang atau memiliki karang gigi, sebaiknya dibersihkan. Agar mulut tidak bau ketika puasa tiba.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved