Ramadan Momen untuk Stop Merokok
Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat memanfaatkan Ramadan sebagai momen untuk mulai berhenti merokok.
SRIPOKU.COM - Indonesia memiliki konsumen rokok terbesar ketiga di dunia, kalah dari Cina dan India.
Sebagian besar dari para perokok merupakan usia produktif. Akibat rokok, kualitas kesehatan generasi produktif terancam menurun.
Mengingat begitu berbahayanya ancaman rokok, Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat memanfaatkan Ramadan sebagai momen untuk mulai berhenti merokok.
"Kalau di siang hari bisa puasa rokok, semestinya di malam hari dan hari-hari selanjutnya juga pasti bisa," ujar Prof Tjandra Yoga Aditama, Dirjen P2PL Kemenkes, di hadapan media, Jumat (12/7/2013).
Untuk memasyarakatkan imbauan ini, Kemenkes akan melakukan penyuluhan melalui Dinas Kesehatan dan rumah sakit. Spanduk dan standing banner tentang berhenti merokok akan dipasang di berbagai lokasi.
"Saya harap media massa juga turut aktif memberikan penyuluhan tentang berhenti merokok," harapnya.
Prof Tjandra menuturkan, program serupa juga telah dilakukan di negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.
"Ini momen yang tepat, dan kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin," imbuhnya.
Berdasarkan data GATS (Global Adult Tobacco Survey) 2011, prevalensi perokok dewasa di Indonesia sekitar 61,4 juta orang. Sebanyak 92 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok, atau menjadi secondhand smoker.
Sangat memerihatinkan lagi, 43 juta anak-anak juga terpapar asap rokok, dan 11,4 persen di antaranya anak-anak berusia 0-4 tahun.
Akibat paparan asap rokok, lebih dari 200 ribu orang meninggal setiap tahun, terkena penyakit terkait rokok.