Vertigo Bukanlah Stroke
Stroke bisa bermanifestasi vertigo, tetapi vertigo bukan stroke.
SRIPOKU.COM - Stroke, penyakit mematikan ketiga di Indonesia setelah kanker dan jantung, adalah penyebab kecacatan yang utama. Berbeda dengan penderita jantung, setelah serangan, biasanya pasien stroke tidak bisa kembali produktif.
“Pasien jantung, setelah dioperasi atau by pass, dua minggu bisa bekerja kembali, berbeda dengan pasien stroke. Kebanyakan mereka kemudian menjadi beban bagi keluarga,” kata dr. Sukono Djojoadmodjo, Sp.S, dari RS Premier Jatinegara.
Diungkapkan ahli saraf ini, data di Amerika Serikat, tiga bulan setelah serangan stroke, pasien setidaknya membutuhkan biaya hingga 15 ribu dolar AS. “Indonesia belum ada datanya, tetapi dua minggu perawatan pasca serangan bisa menghabiskan biaya sampai puluhan juta,” katanya.
Gangguan aliran darah ke otak, penyebab stroke, biasanya terjadi mendadak. Gangguan darah bisa karena pembuluh darah tersumbat atau pecah.
“Tergantung gangguan di otak daerah mana, ada yang mengalami gangguan memori, ada yang yang lumpuh satu sisi tubuh. Bisa juga berupa vertigo, bila yang terkena serangan adalah daerah yang mengurusi keseimbangan tubuh, atau di bagian otak kecil,” tuturnya.
Namun, ia menegaskan bahwa vertigo bukanlah stroke. “Manifestasi vertigo bisa merupakan gambaran dari stroke. Stroke bisa bermanifestasi vertigo, tetapi vertigo bukan stroke. Apalagi untuk yang vertigo terus-menerus. Yang bisa menentukan hanya dokter,” paparnya.
Untuk stroke, waktu penanganan alias golden period adalah 4,5 sampai 6 jam pascaserangan. Semakin cepat mendapat penanganan, kecacatan akibat stroke bisa dihindari.
“Saya pernah menangani ginekolog yang mengalami stroke saat sedang bertugas. Karena cepat dibawa ke rumah sakit, kurang dari 2,5 jam, ia bisa sembuh. Kalau cepat ditangani, dan dalam penanganan yang bagus, hasilnya bisa baik. Yang penting adalah bagaimana kita mengurangi kecacatan pasien seminimal mungkin agar bisa kembali pada daily activity-nya,” ungkapnya.
Yang juga penting, dr. Sukono menyatakan bahwa stroke dan penyakit jantung bisa dicegah dengan mengontrol tekanan darah, diabetes, kadar kolesterol dan trigliserida. Semua itu bisa dilakukan dengan mengubah gaya hidup.
"Ubah gaya hidup dengan menurunkan berat badan dan rutin olah raga. Untuk olah raga, anjuran WHO adalah 4-5 kali dalam seminggu. Jangan lupa, segera berhenti merokok. Tentu dibutuhkan niat untuk sehat,” katanya. (sehatnews)