Terminal Kota Sekayu Jadi Tempat Maksiat
Terminal bus di Kota Sekayu di Jalan Lingkar Randik hingga saat ini belum berfungsi bahkan menjadi tempat maksiat
Penulis: Eko Adiasaputro | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, SEKAYU - Setelah beberapa tahun dibangun, terminal bus Kota Sekayu di Jalan Lingkar Randik, Sekayu, Muba, hingga saat ini belum berfungsi. Selain sepi dan bangunannya mulai rusak, tempat ini juga kerap dijadikan oknum masyarakat untuk berbuat mesum dan maksiat lainnya.
Pantauan Sripoku.com, dalam kurun lima bulan terakhir tidak terlihat ada angkutan umum yang menurunkan atau sebaliknya menaikan penumpang di terminal ini. Suasana di sana sepi dan hanya ada beberapa orang penghuni ruko tanpa aktivitas berarti. Sementara bangunan terminal berupa gedung utama, tempat loket, dan sebagainya mulai kusam dan terkesan terbengkalai. Bahkan merek terminal yang di pasang pada bagian depan lokasi terminal tidak tahu lagi kemana hurufnya.
Kondisi memprihatinkan ini dianggap wajar oleh kebanyakan sopir angkot wilayah Sekayu. Menurut mereka, tidak ada yang mau masuk terminal karena letaknya yang tidak strategis juga jauh dari pusat kota. Mereka pun lebih memilih terminal bayangan di sekitar Pasar Perjuangan Sekayu, tanpa peduli akan membuat semrawut dan kemacetan di sana.
“Kita bukan tidak mau masuk terminal Pak. Di sana sepi dan jauh dari pusat keramaian. Di Pasar ini saja penumpang sulit didapat, apalagi di terminal itu,” kata Rohim, salah seorang sopir bus Mangunjaya-Palembang, Jumat (18/11/2011).
Hal senada dikatakan Irawan, salah seorang sopir angkot. Menurut dia, pembangunan terminal tidak mempertimbangkan aspek strategis hingga tidak memiliki prospek yang baik. Akibatnya, para sopir enggan masuk terminal, dan lebih memilih mencari penumpang dengan sistem jemput bola.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Muba Soefyan Wahidoen mengakui belum berfungsinya terminal tersebut karena beberapa alasan. Menurut dia, selain letaknya memang tidak strategis, pola pembangunan fasilitas terminal juga tidak sesuai dengan ciri khas terminal. Adanya ruko-ruko kecil tempat berdagang juga dinilai tidak cocok dengan desain terminal. Kalaupun berfungsi, tentu akan mengundang kekacauan dan kemacetan. Lantaran terbengkalai, kata dia, ruko-ruko yang ada ini tidak jarang dijadikan oknum masyarakat sebagai tempat maksiat.