Guru Gunting Jilbab Siswi

MUARAENIM - Tanpa sebab jelas, seorang guru laki-laki di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Muaraenim, menggunting puluhan jilbab siswi MAN Muaraenim. Pengguntingan dilakukan usai upacara bendera di halaman MAN Muaraenim.

“Kami tidak tahu Pak, mengapa jilbab kami dipotong. Padahal jilbab ini dibeli dari sekolah. Jika memang tidak sesuai standar mengapa dijual ke kami,” kata seorang siswi tanpa mau menyebut namanya yang menceritakan kejadian ke kakak angkatnya sembari memperlihatkan jilbab putih yang robek 10 cm, Selasa (11/1).

Sementara dari informasi, usai upacara bendera, puluhan sisiwi MAN Muaraenim dikumpulkan oknum guru di halaman sekolah. Lantas furu tersebut memberikan nasehat kepada siswa terutama kepada siswi yang dianggap melanggar aturan sekolah karena tidak memakai jilbab putih polos tanpa embel-embel dan akesoris.

Namun nasehat dilanjutkan dengan tindakan pengguntingan jilbab siswi yang dianggap telah melanggar aturan sekolah.

Setelah itu, siswi yang dianggap melanggar disuruh pulang dan harus mengganti dengan jilbab yang sesuai standar sekolah. Jilbab yang digunting guru tersebut adalah jilbab putih polos mirip mukena yang ada talinya.

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Muaraenim, H Asymuni Hambali, mengaku belum mengetahui kejadian tersebut. Tetapi ia berjanji segera berkoordinasi dengan Kepsek MAN Muaraenim untuk mencari tahu kebenaran informasi.

Sedangkan Kepsek MAN Muaraenim, Robuan yang didampingi Wakil  Kepala Sekolah Bagian Kurikulum Epi Almansyah juga belum mengetahui tindakan seorang guru yang menggunting jilbab siswi.

Pada saat kejadian ia sedang mengikuti rapat di Palembang. Namun ia berjanji akan segera berkoordinasi dengan guru yang bersangkutan.

Meski belum tahu, ia tidak menampik jika sekolah meminta seluruh siswa berseragam seperti celana siswa yang kincup dan cutbrai, kaos kaki harus warna putih polos, sepatu warna hitam polos dan jilbab harus putih polos tanpa ada pernik-pernik seperti bordir, warna-warni dan sebagainya.

“Nanti kita koordinasi lagi. Jika memang ada dan kesalahan pihak pengajar, tentunya guru tersebut akan dibina. Kita sering serba salah, jika tegas nanti HAM. Jika tidak tegas siswa tidak serius dan cenderung mempermainkan guru,” katanya. (ari)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved