Debit Air Sungai Musi Susut, Produksi Air Bersih PDAM Terancam

Produksi air bersih di tiga sumber pengolahan air baku (water treatment plan/WTP) milik PDAM Tirta Musi Palembang, terancam turun hingga 50 %.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Produksi air bersih di tiga sumber pengolahan air baku (water treatment plan/WTP) milik PDAM Tirta Musi Palembang, terancam turun hingga 50 persen.

Hal ini disebabkan level air baku turun hingga setengah meter akibat debit air Sungai Musi yang susut sebagai dampak kemarau yang terjadi sejak satu bulan terakhir ini.

Pantauan Sripoku.com di pusat pengolahan air baku di WTP Kelurahan 1 Ilir, WTP Sungai Ogan,  dan WTP di Karanganyar, Selasa (6/9), masing-masing indikator (alat ukur) level air menunjukan posisi air berada di garis 0,50 atau turun setengah meter dari garis aman.

Misalnya di WTP Karanganyar, debit air di 0,50. Itu artinya produksi air hanya bisa 330 liter per detik.

Bagi PDAM Tirta Musi, ada dua garis aman level air untuk memproduksi air bersih.

Pertama, level air di garis 0.00, maka PDAM bisa memproduksi 600 liter per detik dengan menyiagakan 2-3 pompa. Sedang di atas level plus 1.00, maka pompa yang siaga sebanyak 1-2 unit dan produksi tetap pada angka 600 liter per detik.

Untuk menormalkan produksi air 600 liter per detik di Karanganyar, PDAM terpaksa memakai empat pompa. Itu pun kemampuan prosuksi maksimal di angka 580 liter per detik.

Namun pola ini harus dibayar PDAM karena cost yang dikeluarkan cukup tinggi, terlebih biaya listrik dan perawatan.

"Cara ini terpaksa dilakukan untuk menstabilkan suplai air ke pelanggan. Kalau tidak pakai pompa cukup banyak untuk menghisap air dari Sungai Musi. Sudah dapat dipastikan produksi air bersih turun 50 persen dan warga akan mengalami krisis  air bersih," kata Direktur Teknik PDAM Tirta Musi Palembang Ir Stephanus MM ketika ditemui di WTP Karanganyar.

Sampai sejauh ini, PDAM masih mengandalkan Sungai Musi sebagai sumber air baku. Makanya, begitu permukaan air di hulu sungai mengalami penyusutan, maka secara otomatis level air di WTP mengalami penurunan.

"Pompa tambahan kami siaga 24 jam. Makanya, harus dirawat dan jangan sampai mengalami gangguan," ujar Stephanus.

Penulis: Husin
Editor: Sudarwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved