Kanal

Karena Transaksi Mudah Minimal Rp 1 Juta,Produk Investasi Surat Utang Negara Diburu Investor

Director of Business Development Tanam Duit Muhammad Hanif saat melakukan presentasi mengenai produk investasi Saving Bond Retail (SBR) seri SBR004 di Rumah Tamu Cafe and Resto Palembang, Kamis petang (06/09/2018). - SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI

Laporan wartawan Sripoku.com, Jati Purwanti

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Perusahaan Financial Technology (fintech) Tanam Duit mencatatkan Rp10 miliar investasi dari pemesanan produk Saving Bond Ritel (SBR) seri SBR004 sejak dibuka penjualannya pada 20 Agustus lalu.

Director of Business Development Tanam Duit, Muhammad Hanif mengatakan sebagai mitra distribusi (midis) selama lebih dari dua pekan sudah ada sebanyak 400 investor yang membeli produk investasi Surat Utang Negara (SUN) melalui aplikasi Tanam Duit.

Baca: Lebih Dari 20 Kali Lakukan Aksi Begal. Pembegal : Target Utama Kami Pengendara yang Sendirian

"Animo masyarakat untuk berinvestasi cukup tinggi karena memang praktis lewat gawai serta pemesanan sudah bisa dengan minimum  Rp1 juta. Khusus yang melakukan pemesanan di aplikasi Tanam Duit akan mendapatkan cashback reksa dana 2 persen," ujarnya pada kegiatan Investor Gathering di Rumah Tamu Cafe and Resto Palembang, Kamis petang (06/09/2018).

Dia menerangkan selain dapat berkontribusi kepada negara untuk pembangunan pendidikan di Indonesia, masyarakat yang berinvestasi akan mendapatkan bunga minimal sebesar 8,05 persen dan hanya dikenakan pajak sebesar 15 persen.

Baca: Video Aksi Polwan Main Golok Jatuhkan 2 Pria

"Jika  BI rate naik maka bunga yang akan didapatkan oleh investor juga akan naik. Namun jika turun bunga akan menyesuaikan dengan batas minimal yang ditetapkan bank sentral," terangnya.

Ditambahkannya saat ini perusahaan fintech tersebut telah mampu menggaet investor untuk sektor investasi ritel sebanyak 8 ribu dari total target 40 ribu investor.

Baca: Dolar Terpuruk, Harga Suku Cadang Kendaraan di Palembang Tetap Stabil

"Sementara untuk investasi reksadana saat ini sudah mencapai Rp25 milir dari Rp100 miliar yang harus kita kejar hingga akhir tahun ini," tambahnya.

Dia melanjutkan untuk menjaring investor lebih banyak pihaknya melakukan strategi khusus mulai dari melakukan perpanjangan bisnis pada agen penjual hingga memaksimalkan penjualan produk investasi melalui aplikasi daring.

Baca: Kenaikkan Dolar Buat Pebisnis Properti Ketar-Ketir. Pengamat Properti : Harus Inovatif & Kreatif

"Sekarang berinvestasi sudah semakin mudah dan bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun  karena semuanya sudah ada di genggaman. Jadi, potensi pasar ini yang terus kami maksimalkan," katanya.

Berbeda dengan deposito, produk investasi ini baru bisa dicairkan dalam jangka waktu dua tahun  kecuali pada masa pelunasan sebelum jatuh tempo (early redemption).

Baca: Kisah Anak Cari Ayah di Barisan Prajurit Kopassus Tapi Tak Diberi Tahu Jika Tewas di Medan Perang

Untuk  tanggal penetapan hasil penjualan yakni pada 17 September 2018, penyelesaian transaksi pada 19 September 2018 dan jatuh tempo ditetapkan pada 20 September 2020. 

Menjelang penutupan masa pembelian pada 13 Agustus mendatang, kini produk investasi ini tercatat sudah dipesan sebesar Rp4,8 triliun dari total kuota nasional sebesar Rp6 triliun. 

Penulis: Jati Purwanti
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer