Kanal

Peringkat Pertama Kampung Iklim Tingkat Propinsi, Kini Desa Sukakarya Wakili Sumsel Tingkat Nasional

Desa Sukakarya Kecamatan Suku Tengah Lakitan (STL) Ulu Terawas Kabupaten Musirawas akan mewakili Propinsi Sumsel mengikuti "Lomba Kampung Iklim" tingkat nasional. Desa Sukakarya mewakili Sumsel, setelah berhasil menyabet peringkat terbaik pertama lomba kampung iklim tingkat propinsi dan mendapatkan penghargaan dari Gubernur Sumsel pada 29 Juli 2018 lalu. - SRIPOKU.COM/AHMAD FAROZI

Laporan wartawan Sripoku.com, Ahmad Farozi

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS-- Desa Sukakarya Kecamatan Suku Tengah Lakitan (STL) Ulu Terawas Kabupaten Musirawas akan mewakili Propinsi Sumsel mengikuti "Lomba Kampung Iklim" tingkat nasional.

Desa Sukakarya mewakili Sumsel, setelah berhasil menyabet peringkat terbaik pertama lomba kampung iklim tingkat propinsi dan mendapatkan penghargaan dari Gubernur Sumsel pada 29 Juli 2018 lalu.

Camat STL Ulu Terawas Saparudin Husein kepada Sripoku.com, Selasa (7/8/2018) mengatakan, untuk menghadapi lomba Kampung Iklim tingkat nasional, saat ini pihaknya terus melakukan pembenahan-pembenahan dan memersiapkan sarana penunjang.

Seperti pemasangan lampu jalan oleh Dinas PU Cipta Karya TRP, pembuatan kolam terpal oleh Dinas Perikanan dan pembenahan administrasi supaya lebih baik lagi.

Baca:

Tol Palindra (Palembang-Indralaya) Belum Beroperasi Penuh. Ini Alasannya

MUI Sumsel Imbau Penjual Hewan Kurban tak Berjualan di Sembarang Tempat

"Karena yang akan kita hadapi kedepan adalah lomba Kampung Iklim tingkat nasional, tentu persiapan kita harus lebih baik lagi. Kita tak hanya membawa nama Musirawas, tapi membawa nama Propinsi Sumsel, tentunya nama baik daerah dan propinsi harus kita jaga. Harapan kita, dapat juara nasional," ujar Saparudin Husein, Selasa (7/8/2018).

Dikatakan, Desa Sukakarya ditetapkan sebagai Kampung Iklim di Kabupaten Musirawas, karena memenuhi kriteria sebagai Kampung Iklim. Seperti masyarakatnya bisa menyikapi musim kemarau dan musim hujan dengan bijaksana.

Untuk menghadapi kemarau, masyarakat setempat membangun embung desa, yang berguna sebagai tempat penampungan air. Kemudian masyarakat juga konsisten menjaga hutan lindung yang ada di desa.

Kemudian kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menggunakan limbah yang ada untuk menjadi pupuk organik.

"Masyarakat memanfaatkan halaman runah untuk menambah ekonomi keluarga dengan menanam jahe, sayuran dan lainnya. Juga memanfaatkan air limbah keluarga untuk memelihara ikan, khususnya ikan lele dumbo," ujar Saparudin Husein. (*)

Penulis: Ahmad Farozi
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post

VIDEO John Kei, Sosok Pembunuh Sadis Penghuni Sel Khusus Nusakambangan yang Kini Bertobat

Berita Populer