Senin, 29 Desember 2014
Sriwijaya Post
Home » Opini

Serba Serbi Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji

Senin, 25 April 2011 08:48 WIB

Serba  Serbi Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji

Agatha Septianna SR, SE, M.Si
Ketua STIE Musi

Sripo/Ist

PEMERINTAH RI pada awal tahun 2007  meluncurkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG (Liquid Petroleum Gas) yang selanjutnya disebut elpiji.  Meskipun banyak pro dan kontra karena terkesan terburu-buru, kebijakan pemerintah tersebut tetap dijalankan. Dari berbagai perspektif, kebijakan pemerintah ini  sangat logis, mengingat  harga minyak mentah internasional cenderung  melonjak sangat tajam. Apabila harga minyak tanah dalam negeri dipertahankan, pemerintah harus mengeluarkan dana APBN yang sangat besar untuk mensubsidi. Sementara itu cadangan minyak bumi di Indonesia saat ini sudah semakin menipis. Isu cadangan bahan bakar minyak dunia yang semakin menipis menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk melakukan konversi terhadap bahan bakar gas yang masih tersedia dalam jumlah besar (www.pertamina.com). 

Alasan dilakukannya program Konversi Minyak Tanah ke elpiji adalah :
- Berdasarkan kesetaraan nilai kalori, subsidi elpiji  lebih rendah dari pada subsidi minyak tanah.
- Penghematan subsidi dapat mencapai Rp 15-20 triliun jika program ini berhasil. Elpiji lebih sulit dioplos dan disalahgunakan.
- Elpiji lebih bersih dari pada minyak tanah.
Ketersediaan gas dalam jumlah besar menurut pemerintah terjadi karena belum populernya gas sebagai alat bantu masak.  Penggunaan elpiji sebagai bahan bakar dianggap relatif lebih bersih karena polusinya lebih ringan jika dibanding bahan bakar minyak tanah. Oleh sebab itu, tujuan kebijakan dari konversi penggunaan bahan bakar minyak tanah ke gas elpiji sangat jelas, yaitu menghemat pengeluaran anggaran publik dan sekaligus mengurangi tingkat polusi.

Kebijakan program konversi ini dapat  berjalan lancar  karena pemerintah  berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Menteri Perindustrian, Menteri Koperasi dan UKM, dan PT Pertamina.   Percepatan konversi dilakukan dengan dua cara: membagikan tabung gas gratis dan menambah pemasok gasnya dan pada saat yang sama menarik minyak tanah bersubsidi. Berdasarkan data dari Pertamina pada bulan September 2010, setelah program berjalan selama 3 tahun, hingga akhir Agustus 2010 telah didistribusikan 45,5 juta paket elpiji kepada masyarakat dari total 52 juta paket yang akan dibagikan. Program ini juga telah mengurangi konsumsi minyak tanah (kerosene) dari 9,9 kiloliter pada tahun 2007 menjadi 5,8 kiloliter pada tahun 2010 serta memberikan kontribusi penghematan subsidi hingga Rp.21,78 triliun (nett). 

Pada tahap awal konversi pembagian tabung gas gratis difokuskan pada kota-kota besar yang relatif mudah dari segi transportasi dengan target rumah tangga pemakai yang berbeda-beda. Namun demikian dalam pembagian gratis ke masyarakat inipun  menimbulkan masalah, karena banyak wilayah atau daerah yang tidak tersentuh pembagian tabung  selain itu dirasakan ada sisi ketidakadilan dalam pembagian ini. Pembagian tabung seringkali salah sasaran. Masyarakat yang sebetulnya mampu, bahkan sudah memiliki kompor gas malahan mendapatkan pembagian gratis sedangkan masyarakat yang  membutuhkan atau relatif miskin malahan tidak mendapatkan pembagian.  Padahal sebetulnya tidak  susah untuk mendata warga yang relatif miskin dan membutuhkan  melalui RT/kelurahan setempat.         
MASALAH pokok yang dihadapi dalam tahap implementasi ialah bahwa tidak mudah bagi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan bahan bakar minyak tanah untuk beralih ke elpiji. Meskipun tabungnya diberikan gratis dan berukuran kecil, tetap saja tidak mungkin membeli eceran sebagaimana minyak tanah. Elpiji harus dibeli satu tabung minimal 3 kg dengan harga sekitar Rp 14.000.
Terbilang Sukses

Selain itu perilaku dan budaya masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa menggunakan kompor minyak tanah ternyata masih sulit diubah. Pemerintah tidak mengantisipasi keterkejutan masyarakat karena minyak tanah yang telah membudaya sejak lama sebagai bahan bakar andalan tiba-tiba harus diganti dengan gas. Di tengah ketidakpastian, bahkan ada sebagian warga yang menjual kompor gasnya ke pihak lain sementara mereka tetap mencari minyak-tanah yang semakin langka, karena  sebagian orang  memanfaatkan situasi yang tidak jelas  dengan cara sengaja menimbun minyak tanah.

Minyak tanah semakin langka  dan masyarakat tidak punya pilihan selain membelinya dengan harga tinggi. Kebijakan yang menetapkan pangkalan dan agen minyak tanah sebagai pangkalan serta agen elpiji 3 kg juga dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengeruk keuntungan dari kepanikan warga masyarakat. Sebagian pengecer minyak tanah dan pembuat kompor minyak tanah juga resah karena mereka   akan segera kehilangan pekerjaan.

Meskipun menghadapi cukup banyak kendala, program konversi minyak tanah ke gas elpiji bisa dibilang sukses sejak diluncurkan tahun 2007. Hal ini bisa dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah permintaan akan tabung gas. Pada tahun ketiga implementasi, yaitu pada tahun 2010, petaka mulai melanda, berbagai kejadian kebocoran dan ledakan tabung gas telah banyak memakan korban.

Tabung gas 3 kg yang sering disebut sebagai tabung melon dan berwarna hijau terang atau hijau stabilo tersebut tiba-tiba dianggap sebagai teror bom dan pembunuh yang sewaktu-waktu dapat mengancam kehidupan mereka. Kasus ledakan tabung gas sering terjadi akibat rubber seal sudah aus (penyekat antara regulator dengan saluran gas di tabung), sehingga gas bocor ketika regulator dipasang, atau karena umur selang dan regulator yang sudah lewat masa pakai.

Seharusnya kejadian tidak perlu terjadi apabila pemerintah rajin memberikan sosialisasi kepada warga masyarakat. Pemerintah selama ini terkesan menyepelekan masalah sosialisasi, seolah-olah jika sudah mengumumkan ke media massa semua unsur masyarakat akan mengerti dan selanjutnya mendukung program konversi tersebut, padahal proses sosialisasi ini sangat dibutuhkan untuk membentuk opini publik tentang manfaat yang diperoleh dengan menggunakan gas elpiji dan meyakinkan bahwa berpindah dari minyak tanah ke gas elpiji benar-benar membuat hidup masyarakat lebih mudah.

MENURUT survei yang dilakukan  penulis terhadap beberapa warga masyarakat sekitar,  meskipun banyak cerita buruk tentang tabung gas elpiji 3 kg tersebut, masyarakat masih memilih menggunakan tabung gas elpiji 3 kg  dibandingkan dengan pemakaian minyak tanah untuk keperluan memasak.  Alasan utama adalah   pengeluaran untuk membeli minyak tanah lebih besar jika dibandingkan dengan elpiji (untuk tabung ukuran 3 kg). 

Alasan yang lain adalah susahnya mendapatkan minyak tanah, kalaupun ada harganya mahal sekitar Rp.7.500,-/liter dan minyak tanah yang didapatkan seringkali tidak murni/jernih lagi, dikhawatirkan sudah dioplos dengan bahan lain dan membahayakan, mengingat cukup banyak kasus kompor konvensional meledak dengan minyak tanah campuran ini. Selain itu minyak tanah dianggap lebih panas dan kotor.

Pemakaian minyak tanah rata-rata warga dalam 1 hari kurang lebih 1 liter, sedangkan tabung gas elpiji 3 kg bisa digunakan selama kurang lebih 1 minggu (7 hari).
Perbandingan pengeluaran tiap bulan dapat dilihat pada tabel di bawah:
Berdasarkan tabel di atas, bisa dilihat bahwa penghematan yang bisa dilakukan warga apabila menggunakan Elpiji per minggu, kurang lebih Rp.38.500,-, apabila dihitung dalam 1 bulan bisa menghemat kurang lebih Rp. 154.000,-, jumlah yang besar bagi masyarakat yang penghasilannya pas-pasan.  Oleh karena itu, sebenarnya  kebijakan pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah ke elpiji sebenarnya merupakan kebijakan yang sudah tepat, hanya perlu dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :

1.Pemerintah masih harus secara intensif memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat konversi minyak tanah ke gas elpiji dan diikuti dengan penyuluhan secara menyeluruh bagaimana cara menggunakan dengan benar sehingga memperkecil resiko kebakaran dan ledakan
2.Pemerintah mengawasi secara ketat produksi tabung dan kompor gas. Hal ini dilakukan agar tabung gas yang diberikan kepada masyarakat tidak mudah bocor dan terbakar.

3.Pemerintah juga mengawasi  pemakaian aksesori tabung elpiji, termasuk membenahi mutu selang, regulator, valve atau katup serta rubber seal.

4.Pemerintah menindak tegas  oknum yang mencari keuntungan dengan cara praktik suntik pemindahan isi tabung gas yang dapat merusak aksesori (rubber seal) tabung dan menyebabkan kebocoran. 
Dengan adanya perhatian pemerintah terhadap kebijakan konversi tersebut,  diharapkan masyarakat  akan semakin merasa antusias dalam menggunakan gas elpiji karena merasa lebih praktis, efisien dan aman. Dari sisi pemerintah tentu saja akan dapat   menghemat anggaran.

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas