• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Kecantikan sebagai Investasi

Minggu, 24 Mei 2009 12:27 WIB

Kata “cantik” pun
 diidentikkan dengan kulit putih, rambut panjang hitam legam, hidung mancung dan berbadan langsing. Cap itu wajib diberikan bagi perempuan yang kebetulan berkriteria di atas. Sementara label “jelek” secara semena mena diberikan pada perempuan yang secara kebetulan pula tidak memenuhi kriteria di atas. Padahal kenyataanya setiap perempuan, pasti ingin diberi pengakuan “cantik”, atau sekurang kurangnya “menarik” dari lingkungan sekitarnya. Tentu saja dengan predikat seperti itu membuat perempuan lebih percaya diri, lebih bahagia atau bahkan lebih mensyukuri kehadirannya di dunia. Sebaliknya, predikat “jelek”, atau “kurang manis”, atau “biasa biasa aja”, atau apapun sebutan yang menerangkan bahwa dia kurang sedap dipandang mata, bisa membuat seorang perempuan merasa rendah diri, tidak berharga, malu akan dirinya sendiri.
Maka tak mengherankan, tatkala melongok rumah kecantikan medis di Palembang, wanita bahkan pria rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunggu giliran “divermak” wajahnya oleh si “ahli kecantikan”. Di Palembang keberadaan klinik ini kian menjamur seperti Klinik Kecantikan Medisa atau klinik kecantikan London Beauty Center (LBC) di Jalan Basuki Rahmat No 1. Bayangkan, dalam sehari pasien kecantikan mencapai 30 orang datang silih berganti. Model perawatan yang diberikan pun beragam. Dari mulai perawatan kulit wajah, perawatan tubuh hingga sekedar konsultasi bertatap muka dengan dokter. “Bedanya selain memanjakan pelanggan dengan perawatan kecantikan. Disini juga diberikan konsultasi gratis dengan dokter plus obat,” kata Winda, pimpinan cabang LBC. Ia menyebut klinik kecantikan diibaratkan layaknya rumah sakit. Ada pasien yang minta diobati penyakitnya seperti jerawat, mengurangi kerutan atau feeling, facial, messagge, flek wajah hingga peremajaan kulit. Lalu bagaimana dengan resep?
Pada klinik kecantikan justru resep adalah faktor utama penunjang perawatan. Betapa tidak usai mendaftar, pasien atau pelanggan dituntun untuk berkonsultasi dengan dokter kecantikan. Pada tahap ini mereka bebas berkeluh kesah. Sang dokter pun secara lugas bakal menuliskan resep hingga bentuk perawatan yang harus dilalui. “Mekanisme kerjanya hampir 80 persen melibatkan dokter. Sehingga pasien tidak ragu untuk datang. Itu juga sebagai bentuk jaminan pelayanan, khususnya di klinik-klinik kecantikan,” jelas Winda. Tak cukup sampai disitu. Usai menerima resep, lanjut Winda, pasien atau pelanggan bebas menjalani perawatan sesuai ajuran dokter. Di LBC sendiri, menerapkan empat bentuk pelayanan. Yakni LBC Microdermabrasion untuk mengurangi jerawat, flek hitam atau penuaan dini. Perawatan ini bernilai Rp 300 ribu/orang karena mampu menyulap wajah menjadi cerah berkilauan karena ada pancaran kristal diamond disebarkan.
Garansi
Perawatan kedua, yakni LBC OKY Skin atau perawatan menggunakan liquid O2 Base yang berfungsi menstimulir pembentukan jaringan collagen atau Elastin pada bagian dermis atau kulit terluar untuk pengencang. Perawatan ini khusus mengatasi jerawat, kerutan kantong mata, keriput, penuaan dini. Satu kali LBC OKY pasien wajib membayar Rp 250 ribu. Sementara ketiga adalah LBC Skin Feel Of Mask atau pemberian masker agar wajah kusam menjadi segar. Perawatan ini, diakui Winda, mencapai Rp 125 ribu. Khusus LBC Body Whitening dan LBC Super Peel adalah dua jenis perawatan yang terlaris dinikmati warga Palembang. Betapa tidak meski harga yang dipatok masing-masing mencapai Rp 250 ribu hingga Rp 450 ribu, efek manfaatnya cepat dirasakan.
“Kita memberikan garansi kalau produk yang dipakai ternyata tidak cocok maka ada obat anti iritasi. Pelanggan tak perlu takut. Toh ada dokter,” kata Winda menambahkan. Pelanggan pun diakui tak terbatas pada kaum wanita semata bahkan pria pun terkadang ikut-ikutan nimbrung memanjakan diri. Umumnya perawatan pria cenderung jerawat atau facial. Bagitupun pelanggan mahasiswa diakui masih mendominasi dibandingkan ibu-ibu dari kalangan jetzet. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk satu kali perawatan. Secara lugas, Winda menyebut angka berkisar Rp 500 hingga Rp 1 juta. “Tergantung dia pakai perawatan dan obat yang bagaimana. Rata-rata budgetnya minimal Rp 500 ribu,” jelas Winda seraya menyebut belum setahun membuka tetapi LBC mampu menyedot pelanggan hampir 1500 orang.
Lalu apa bedanya klinik kecantikan yang salon-salon. Apakah keberadaan salon akan tergerus dengan adanya klinik kecantikan. Jawabannya ternyata tidak. Justru pilihan sepenuhnya diserahkan pada pelanggan sebagai penikmat layanan. Seperti di Rumah Cantik Muslimah dan Spa Desi Khadijah yang terletak di Jln Letnan Murod No 948. Meski mengikrarkan diri sebagai usaha salon tanpa dokter, tetapi dalam hal jumlah pelanggan pun diakui tak kalah ramai dengan klinik kecantikan. Sejak dibuka Agustus 2008, lalu sedikitnya ada 1500 pelanggan pernah menikmati layanan. Bahkan angka itu terus meningkat. “Bedanya dengan klinik, kita tidak punya dokter namun semua obat dan bahan yang kita racik terbuat dari bahan-bahan natural, seperti parutan wortel, apel atau jeruk untuk fasilitas masker atau facial,” kata Diah (22) HRD, muslimah spa. Dengan mengetengahkan bahan-bahan alami diyakni tidak memberikan efek samping. Salon yang dikhususkan bagi wanita ini dilengkapi delapan ruang. Masing-masing ruang ada dilengkapi fasilitas bed yang menjanjikan privasi pelanggan.
“Prinsipnya mengutamakan pelayanan dengan memadukan bahan-bahan tradisional dari buah dan rempah. Pencapaian tetap, yakni kealamian,” kata Diah seraya mengakui justru paling banyak pelanggan minta di facial atau pembersihan muka. Fasilitas itu, kata Diah, paling digemari disamping murah, yakni Rp 80 ribu, pelanggan akan dijamu selama dua jam. Dimasa itu pelanggan akan merelaksasikan wajah dengan penggabungan message, totok wajah, topping 99 seth dengan soft feeling. Sebagai akhir baru mukanya dimasker menggunakan parutan buah-buahan segar ditambah susu yogurt.
Ria (23), karyawan swasta di salah satu Rumah Sakit terkemuka ini mengaku justru rela merogoh kocek demi mencapai kecantikan. Bila wajah cantik didapat maka timbul rasa percaya diri sehingga menghadapi orang cenderung mudah. Walhasil, pekerjaan lancar. Begitupun diakui Nina (25). Menerjunkan diri dalam dunia model mengharuskannya tampil cantik. Bila tidak maka pekerjaan akan sedikit terhambat. Apalagi penanganan dokter ahli dinilai sebagai garansi sebuah klinik kecantikan.
Sebenarnya kecantikan sangat jarang diartikan sebagai investasi dalam arti yang sebenarnya, kata Winda, hanya saja, kecantikan (penampilan) yang memadai akan membuat orang tertarik berhungan dengan kita. Dalam jangka panjang, hubungan ini bisa dikembangkan ke arah yang lebih lanjut seperti misalnya dalam hubungan kerja atau bisnis yang ujung-ujungnya akan mendatangkan penghasilan.

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
12315 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas