• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Bayar Listrik Dimana Saja

Minggu, 21 November 2010 10:11 WIB
Bayar Listrik Dimana Saja

Antre — Pelanggan PLN antre di depan Loket Pembayaran Rekening Listrik D & J, Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan SU II, Sabtu (20/11). Antrean ini terjadi karena telah memasuki deadline pembayaran listrik bulan November 2010. Selain itu menurut salah satu pelanggan, beberapa hari ini sistem online mengalami gangguan jadi pembayaran menjadi membeludak.

Sriwijaya Post/Syahrul Hidayat

PALEMBANG, SRIPO — Selama tiga hari di akhir pekan ini ratusan pelanggan PLN antre berjam-jam untuk bayar rekening listrik di kantor cabang PLN Kapt A Rivai Palembang. Kondisi serupa berlangsung di loket lainnya setiap bulan jelang tenggat pembayaran tanggal 21 berakhir.

 Bahkan di kawasan Tanggatakat, pelanggan berjemur di halaman depan loket juga antre bayar rekening listrik. Sering kali sistem online yang digunakan PLN terganggu sehingga layanan dihentikan dan pelanggan terpaksa menunggu.

 “Untuk memenuhi kewajiban bayar listrik kita mesti antre lama, kalau telat kena denda sementara layanan PLN tidak maksimal,” kata Ervina Danaiaty, Warga Komplek Citra Damai II M 05.

 Hampir semua orang pernah mengalami dan mengeluhkan hal serupa. Masalah itu akan berakhir karena mulai Januari tahun 2011 sistem pembayaran rekening lisrik secara online diserahkan pada pihak swasta, sehingga bayar listrik bisa di loket terdekat rumah pelanggan.

 Slamet DS, Direktur Teknik PLN S2JB, mengatakan, PLN mengaktifkan sistem Payment Point Online Bank (PPOB) mulai awal Januari 2011 mendatang untuk mengoptimalkan layanan kepada pelanggan dengan sistem Electronic Data Centre (EDC).

 “Dengan sistem ini, pelanggan PLN tidak akan susah payah mengantre untuk membayar listrik. Cukup melalui EDC yang terdapat di sekitarnya,” kata Slamet.

Menurut dia, di Palembang saat ini hanya terdapat 378 loket pembayaran. Tentu saja tidak maksimal untuk melayani ribuan masyarakat yang datang. Karena itu sistem ini diharapkan bisa mempermudah warga dalam membayar listrik.

 Selain itu, sistem ini juga akan memberi peluang sejumlah pihak untuk berkontribusi atau memanfaatkan bisnis ini dengan membuka EDC di mana pun berada. Caranya simpel, cukup mendaftarkan diri melalui bank yang sudah ditentukan seperti BNI, Mandiri, Bukopin, atau Bank Sumsel Babel. Selanjutnya melakukan deposit sesuai kemampuan layaknya konter pulsa.

 Menurut Slamet, dengan metode EDC pelanggan akan dikenakan biaya tambahan sekitar Rp 1.600. Dengan rincian Rp 400 untuk pemilik jasa (EDC) selebihnya ke bank. “Hanya saja mereka tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos untuk ke Kantor PLN,” tambahnya.

 Sebut Nomor Pelanggan Tiap pelanggan yang akan memanfaatkan sistem Payment Point Online Bank akan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 1.600 per struk rekening. Dana ini sebagai pengganti biaya aplikasi serta sistem teknologi terpakai.

 Marketing Kerjasama Bisnis (MKB) Bank Bukopin, Ratna Sari menjelaskan, jika selama ini tiap transaksi pembayaran rekening listrik melalui perbankan tidak dikenakan biaya alias gratis, khusus pada sistem PPOB berubah. Pelanggan bakal dikenakan biaya tambahan.

 Biaya tersebut sebagai pengganti biaya aplikasi serta sistem teknologi yang dipakai masing-masing perbankan. Apalagi sistem PPOB melibatkan beberapa Collector Agent (CA) hingga Payment Point (agen tambahan). Masing-masing bank yang ditunjuk, kata Ratna, memiliki kriteria biaya yang berbeda-beda tergantung sistem dan teknologi yang dipakai.

 “Sistem PPOB-kan adalah real time dan online, kapan pun dan dimana pun pelanggan bisa membayar tagihan listrik tanpa harus susah datang ke PLN lagi. Nah, teknologi real time, online serta aplikasi tambahan inilah yang dibebankan kepada konsumen,” katanya.

 Meski pelanggan listrik di Palembang sedang berada di Jakarta, kata Ratna, mereka bisa langsung membayar biaya listrik melalui agen maupun CA di sana cukup menyebutkan nomor pelanggan saja.

Selanjutnya, soal waktu pun lebih cepat. Pelanggan hanya wajib mengisi aplikasi, selanjutnya agen akan langsung mentransfer biaya yang masuk ke bank Bukopin.

“Tanpa perlu menunggu lama atau antre, rekening bisa langsung dibayar,” katanya.

 Peluang Usaha Saat ini persiapan di Bank Bukopin hampir rampung 80 persen. Pihaknya tengah melakukan penyesuaian IT di Bank Bukopin dengan sistem yang ada di PLN pusat. Jika semua itu siap maka sistem PPOB bisa dipakai. “Mungkin Desember, sistem PPOB di bank Bukopin sudah siap,” katanya.

 Terkait soal CA, menurut Ratna pihaknya sudah memilih tiga perusahaan. Mereka sebelumnya sudah melalui tahap penyeleksian. Bahkan prosesnya telah dilakukan sejak lima bulan lalu. “Prosesnya kita seleksi ketat. Banyak perusahaan yang mendaftarkan diri tapi kita pilih yang sesuai kriteria, di antaranya mereka wajib memiliki deposito di bank Bukopin minimal 50 persen dari total biaya pembayaran listrik yang akan mereka kelola sendiri, itu syarat mutlak,” katanya.

 Syarat lainnya, yakni wajib memiliki loket, perangkat teknologi baik itu sistem maupun perangkat komputer langsung. Yang terpenting lagi, CA wajib menyetor biaya pembayaran listrik H plus nol setiap hari.

 “Jadi begitu CA menerima dana dari pelanggan maupun agen tambahan, biaya harus langsung disetor hari itu juga sebelum kas tutup atau minimal pukul 15.15 setiap hari,” katanya.

 Selanjutnya, semua biaya yang masuk melalui CA akan langsung disetorkan ke sistem PLN pusat. Untuk agen tambahan, lainya lanjut Ratna diserahkan kepada CA. Mereka berhak memilih sendiri. Prosesnya diserahkan kepada masing-masing CA. Jika sudah ada baru dikoordinasikan dengan manajemen bank Bukopin untuk dilakukan penyeleksian ulang.

 “Paling tidak, sistem dan teknologinya harus disesuaikan dengan di bank Bukopin, CA dan agen Payment, paling tidak mereka memiliki perangkat komputer dan printer untuk bukti cetak data,” katanya.

 Untuk royalti, masing-masing-masing CA akan mendapatkan fee. “Nilainya tergantung kesepakatan dengan pihak bank, tidak etislah disebutkan,” kata Ratna yang juga enggan menyebutkan tiga perusahaan terpilih sebagai CA.

 “Kalau semuanya sudah rampung, akan kita umumkan secara luas,” katanya.

Dihubungi secara terpisah salah satu calon CA Bank Bukopin, Direktur PT Sarwa Karya Wiguna, Dewa Kade Kirawan didampingi staf Mahgodie Idris ST, mengatakan, sistem ini memberikan peluang usaha buat masyarakat yang berminat bisnis rekening listrik.

 Program ini juga membuka peluang usaha bagi warga yang berminat membuka konter jasa pembayaran rekening listrik. Investasi kecil, terkontrol, dan segmen pasar riil. Tidak hanya bisa dioperasikan di ruangan, tetapi juga mobile door to door mendatangi pelanggan PLN. Modalnya cukup laptop, printer, dan modem.

 Caranya bisa langsung mendaftar di PT Sarwa Karya Wiguna atau bank yang sudah ditunjuk. Untuk sistem EDC peminat harus deposit modal Rp 10 juta dengan rincian Rp 3 juta jaminan dan Rp 7 juta lagi untuk layanan pembayaran.

 Ditambahkan Dewa, sejauh ini sudah ada 37 pendaftar yang siap menjadi EDC. Namun kita bersama bank dan PLN nantinya akan melakukan survei kepada yang bersangkutan untuk menentukan jarak ideal. Sebab rencananya kita akan tempatkan minimal 2 km.

(mg1/sta/ahf)

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
53345 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas