Nasihat Ust Nawawi Dentjik Alhafiz: Empat Kreteria Pembaca Alquran

Pembacaan Alquran secara bersama-sama (tadarus) di Bulan Ramadan, bagian dari upaya masyarakat Muslim di Tanah Air, khususnya di Kota Palembang merupa

Nasihat Ust Nawawi Dentjik Alhafiz: Empat Kreteria Pembaca Alquran
Sriwijaya Post edisi cetak
Kreteria Pembaca Alquran 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pembacaan Alquran secara bersama-sama (tadarus) di Bulan Ramadan, bagian dari upaya masyarakat Muslim di Tanah Air, khususnya di Kota Palembang merupakan upaya menghidupkan malam bulan Ramadan, baik sebagai sarana belajar (edukasi) dan dakwah. Bahkan lebih dari pada itu, malam tadarusan juga bagian dari gerakan kesadaran masyarakat untuk mengevakuasi bacaan, daya hafal sekaligus ukhuwah Islamiyah.

Tips agar Khatam Baca Alquran atau Tamat Baca Alquran Selama Bulan Suci Ramadan

Tingkatkan Masyarakat Membaca Alquran Sarimuda Bakal Gaji Guru Ngaji

"Membaca Alquran, adalah sesuatu yang luar biasa, sampai-sampai Nabi Muhammad mengatakan, orang yang berkumpul di salah satu majelis dengan membaca Alquran (tadarus), akan diturunkan di tengah-tengah mereka rahmat dan ketenangan. Dan Allah sebut nama-nama orang yang membaca Alquran di hadapan para malaikat dan dibangga-banggakan," kata Ketua PW Al-Ittihad Pengurus Imam Masjid (IPIM) Sumsel Ust H Nawawi Dentjik Alhafiz kepada murid dan jemaahnya, belum lama ini.

Dikatakan, membaca Alquran baik dilakukan secara sempurna dengan suara yang terbaik atau terbata-bata, akan tetap diberikan kebaikan dari Allah SWT sesuai dengan niat dan keikhlasannya. "Orang-orang yang menbaca Alquran dengan bagus, maka ia akan bersama dengan rasul dan para ambiya. Begitu juga orang yang menbaca Alquran terbata-bata karena kesulitan lidahnya mengucapkan hurup-hurup dalam Alquran, Rasul menyebutkan orang itu mendapatkan dua pahala," katanya.

Untuk itu, ungkap Ust Nawawi Dentjik Alhafiz, para ahli melihat ada empat kreteria orang yang menbaca Alquran, dan ini menjadi evaluasi bagi seorang pembaca (qori) posisi berada dimana. Pertama, orang membaca Alquran secara tekstual, tanpa ilmu tajwid sehingga alquran dibaca apa adanya. Sedangkan kreteria kedua adalah orang yang membaca Alquran secara intelektual. Kelompok ini membaca Alquran dengan keilmuaan dan dapat dilihat dari cara pengucapan huruf yang benar, irama yang bagus sehingga terasa nikmat untuk didengarkan dan menjadi pendorong bagi orang yang mendengarkannya untuk belajar dan mendalami Alquran.

Sementara untuk kreteria ketiga adalah orang pembaca Alquran dengan emosional. Pada tingkatan ini, mereka yang menbaca Alquran sudah dlevel intelektual, tetapi niatnya tidak ikhlas. "Motifnya mengejar juara, jika tujuan yang diharapkan tidak tercapai, kelompok ini menyalahkan orang lain, termasuk dewan juri yang melakukan penilaian," ujarnya.

Terakhir, pembaca Alquran pada kreteria spiritual.Menurut Ust Nawawi, pembaca Alquran kelompok ini sudah menguasai ilmu Alquran secara baik, tetapi tetap rendah hati dan menyadari semuanya milik Allah SWT, sebagaimana ketika malaikat Jibril memerintahkan Nabi Muhammad untuk Iqra, lalu dijawab Nabi, " Maa Ana Bilqori."

"Orang yang bisa membaca Alquran dengan baik dan bagus, lalu hafal Alquran 30 juz, itu semua karena Allah SWT. Jika tidak, mana ada Alquran dalam dirinya," tegas ust Nawawi.

Kepada muridnya, Ust Nawawi mengungkapkan, dirinya ingat betul apa yang menjadi nasihat gurunya Buya KH Zen Syukri, khususnya dari perspektif tauhid. Yakni, pentingnya seseorang menhilangkan sipat "Anaiyah" , yakni sipat keakuan. Sipat ini akan melahirkan riyak dan kesombongan karena mengira apa yang didapatkan atas ushanya sendiri dan sudah menjadi miliknya.

"Jangan sampai kita membaca Alquran sudah merasa hebat, dengan suara yang merdu dan nafas yang panjang karena itu mendatangkan dosa," katanya. (sin)

===

Penulis: Husin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved