Berita Palembang

Ahli Waris Karyawan yang Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Menuntut Haknya kepada Perusahaan

Alfiah dan Wilson Hutahuruk menuntut hak mereka kepada perusahaan tempat mereka bekerja yang tidak membayarkan upah hingga uang tunjangan pensiun.

Ahli Waris Karyawan yang Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Menuntut Haknya kepada Perusahaan
SRIPOKU.COM/WAHYU KURNIAWAN
Alifah (jilbab) dan Wilson (paling kanan) di dampingi K.SPSI Sumsel 1973 ketika meminta hak-hak segera dibayarkan, Kamis (25/4). 

Laporan wartawan sripoku.com, Wahyu Kurniawan

SRIPOKU.CPOM,PALEMBANG -- Alfiah dan Wilson Hutahuruk menuntut hak mereka kepada perusahaan tempat mereka bekerja yang tidak membayarkan upah hingga uang tunjangan pensiun, pasalnya perusahaan tempat mereka mencari nafkah bungkam ketika dimintai hak-hak yang harusnya dibayarkan. 

Seperti yang dialami oleh Alfiah yang mana anak kandungnya meninggal akibat kecelakaan dalam bekerja dan seharusnya mendapatkan uang santunan kematian kecelakaan kerja pada ahli waris sebesar Rp 117 juta.

Nasihin anak dari Alfiah yang meninggal di tahun 2016 itu kini meninggalkan beban yang berat untuk keluarga nya. 

"anak saya Nasihin itu adalah tulang punggung keluarga, ia yang menafkahi kami. Dan sampai saat ini saya bekerja dengan bertani sayur-sayuran, saya minta kepada pemerintah maupun perusahaan tempat anak saya bekerja untuk membayar tunjangan kematian," Jelasnya sambil menanggis, Kamis (25/4).

Alasan perusahaan tidak membayarkan tunjangan kematian itu karena tidak ada ahli waris. Namun, ternyata setelah diusut dan dilakukan mediasi rupanya Nasihin memiliki ahli waris yaitu ibu kandungnya sendiri. 

"iya mereka tidak mau bayar karena tidak ada ahli waris, tapi nyatanya ada yaitu saya sendiri. Sudah banyak proses yang dilalui untuk mendapatkan tunjangan itu tetapi hasilnya nilih, hidup saya semakin melarat banyak hutang dimana-mana untuk hidup sehari-hari," ujarnya. 

10 Orang Anggota KPPS dan TPS di Muaraenim Sakit karena Kelelahan Melaksanakan Tugas Pemilu 2019

Ratusan Mahasiswa dari Berbagai Perguruan Tinggi di Palembang Beri Dukungan ke Penyelenggara Pemilu

Komplek Perumahan Taman Gading Kelurahan Timbangan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Tergenang Air

Senada dengan Alifah, Wilson yang juga menuntu hak-hak dirinya pun tidak dibayar oleh perusahaan tempat ia bekerja.

Pria paruh baya itu tidak dibayar sisa gajinya sebesar Rp 22 juta, uang pensiun sebesar Rp 254 juta dan uang BPJS Ketenagakerjaan yang mereka bayarkan ke perusahaan ternyata tidak dibayar oleh perusahaan ke pihak BPJS Ketenagakerjaan. 

"uang pensiun yang awalnya dari Rp 254 juta melalui sidang PHI akhirnya dapat Rp 154 juta namun sampai saat ini tidak ada kejelasan dari perusahaan untuk membayar," ujarnya.

Bukan hanya itu saja, secara keseluruhan hak-hak yang mestinya dibayarkan dan sudah melalui banyak mediasi maupun tindakan juga tidak ada tanggapan baik dari pengadilan maupun Disnaker untuk membayar. 

"ini seperti bola gelinding tidak ada kejelasan pasti, Disnaker menggeluarkan surat teguran kepada perusahaan namun perusahaan tidak mau membayar mestinya Disnaker mencabut izin," katanya. 

Sementara itu, Ketua DPD K.SPSI Sumsel 1973 Chaidir Tanjung mengatakan bahwa akan membawa mereka berdua ke Presiden Republik Indonesia untuk segera diselesaikan kasusnya. Kalau Pemerintah tidak bisa apa-apa maka semakin sengsara nasib rakyat jelata. 

"akan saya biayai mereka untuk bertemu Presiden, karena Disnaker kita ini sudah tidak becus lagi dan banyak anehnya," katanya. (mg4)

Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved