Taman Tugu Kopi Muaraenim Minim Fasilitas

Bisa membangun tapi tak mampu merawat, itulah penilaian warga Kabupaten Muaraenim terhadap proyek pembangunan Taman Tugu Kopi (T2K) di eks Kantor Dina

Taman Tugu Kopi Muaraenim Minim Fasilitas
Sriwijaya Post edisi cetak
Sriwijaya Post edisi cetak - Taman Tugu Kopi Minim Fasilitas 

MUARAENIM - Bisa membangun tapi tak mampu merawat, itulah penilaian warga Kabupaten Muaraenim terhadap proyek pembangunan Taman Tugu Kopi (T2K) di eks Kantor Dinas Pendidikan. Kondisi taman bernilai miliaran rupiah ini, salain kusam dan kurang pemeliharaan, juga minim fasilitas pendukung rekreasi masyarakat.

Sedot Dana Miliaran, Tugu Kopi di MuaraEnim Terkesan Mubazir

Pelaksanaan Pemilu 2019, Muaraenim Kekurangan Surat Suara

Pantauan sripo, Minggu (21/4), pembangunan Taman Tugu Kopi ini dibangun secara dua tahap. Tahap pertama, dianggarkan dana APBD Muaraenim sekitar Rp 1 miliar, dengan pekerjaan penataan lahan dan pembuatan pondasi taman. Lalu dilanjutkan pada tahap kedua dengan alokasi dana yang sama, yakni Rp 1 miliar. Alokasi dana ini untuk menuntaskan pekerjaan awal.

Namun setelah selesai pada akhir tahun 2018, taman tidak dibuka tetapi masih dipagari seng. Dan sekitar Maret 2018, taman ini dibuka setelah masyarakat banyak bertanya mengapa sudah selesai dikerjakan namun tetap tidak dibuka.

Dan setelah dibuka, ternyata kondisi taman tidak terawat, seperti konblok dan kembang sudah banyak yang rusak dan kembangnya kurang beragam. Kemudian, fasilitas publik seperti lampu taman tidak ada, hanya ada lampu untuk menerangi huruf taman kota saja, sehingga ketika malam hari taman terlihat remang-remang dan membuat sebagaian warga takut dan dikhawatirkan disalahgunakan para pelaku kejahatan.

Selain itu, juga terkesan kurang rapi, dimana meteran listrik yang ada tampak hanya di tempel di sebuah kayu yang dilindungi dengan atap seadanya sehingga membahayakan masyarakat yang melintas atau bermain di taman tersebut. Lalu, untuk pagar kembang taman tidak ada sehingga anak-anak sering bermain ke tengah taman. Akibatnya, membuat kembang rusak atau mati terinjak-injak.

Menurut Agus (30), salah satu warga mengatakan, Taman tersebut dinilai kurang nyaman dan kurang perawatan untuk dijadikan sebagai tempat kongkow-kongkow. Padahal, lokasinya sangat strategis tepat di tengah-tengah kota Muaraenim.

"Tempat duduknya kotor dan tidak ada atap, jika hujan basah. Kalau siang kepanasan, sayang sekali sudah menghabiskan uang miliaran, namun manfaatnya kurang," ujarnya.

Hal senada dikatakan Ida (35), warga Muaraenim. Ia mengaku dirinya baru pertama kali mengajak anaknya bermain di taman Tugu Kopi tersebut karena letaknya sangat strategis. Namun sayangnya, fasilitasnya kurang memadai, seperti tempat duduk yang nyaman, WC, tempat bermain anak, lampu penerangan, dan kabel yang masih semrawut sehingga takut kesetrum. Keberadaan taman ini, setidaknya menjadi alternatif Taman Adipura, Taman Hutan kota dan taman lainnya di Muaraenim untuk bermain dan bersosialisasi.

"Coba seperti taman di Kota Bandung dekat Masjid. Ada jualannya, WC-nya dan lain-lain. Ini bisa mirip, karena disini dekat Masjid Agung," ujarnya. (ari)

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved