Tingkatkan Pendapatan Stasiun LRT Dijual

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dari kereta aping ringan alias Light Rail Transit (LRT) Sumsel, seperti meningkatkan pengelolaa

Tingkatkan Pendapatan Stasiun LRT Dijual
SRIPOKU.COM/Rangga
Ilustrasi - Penggunaan moda transportasi LRT saat ini sudah menjangkau jam operasi malam. Salah satu penumpang menunggu jam keberangkatan di stasiun Punti Kayu, Kamis (29/11). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dari kereta aping ringan alias Light Rail Transit (LRT) Sumsel, seperti meningkatkan pengelolaan stasiun LRT dan memanfaatkan aset diluar stasiun LRT. Dimana fasilitas yang akan akan dijual kepada pihak ketiga, salah satunya tempat memasang iklan.

Berita Palembang : Meskipun Perbaikan Baru 50 Persen, Stasiun LRT DJKA Sudah Dibuka Sejak Kemarin

Stasiun Light Rail Transit Jadi Atap Cagar Budaya

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Sugiyanto didampingi Kasih Pemanfaatan Sarana Prasaran Perkeretaapian Balai Pengelolan Keretaapi Ringan Sumsel, Eben Torsa mengatakan, dalam waktu dekat stasiun LRT akan dikomersilkan.

"Sudah banyak permintaan dari berbagai pihak seperti perbankan, ritel dan makanan yang ingin memanfaatkan stasiun LRT," ujarnya di sela acara FGD terkait transit oriented development (TOD) LRT Sumsel yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Perhubungan di Palembang, Kamis (11/4).

Namun menurutnya, meskipun sudah banyak yang minta, tetapi belum bisa direalisasikan sekarang karena masih perlu menyelesaikan sejumlah tahapan dulu untuk nantinya bisa menghadirkan pusat komersil di stasiun.

"Targetnya tahun ini tapi kapan pastinya kita belum tahu. Namun akan kita coba kejar di semester II tahun ini, dengan harapan bisa berdampak positif terhadap peningkatan jumlah penumpang yang menggunakan moda transportasi LRT ini," katanya.

Menurutnya, saat ini pihaknya sedang mengurus dokumen Badan Layanan Umum (BLU) di Kementerian Keuangan. Begitu BLU berdiri maka Balai Pengelola Kereta Api Ringan dapat membahas tarif sewa untuk komersialisasi aset.

"Komersialisasi aset LRT Sumsel ini berbeda dengan MRT Jakarta, karena kalau MRT sudah dikelola oleh BUMD. Sedangkan untuk LRT Sumsel perlu dibentuk BLU dulu baru bisa bahas tarif sewa," katanya.

Sugiyanto pun mengatakan bahwa komersialisasi aset di dalam stasiun bisa beragam, mulai dari penamaan stasiun, tenant, ATM Center, videotrone, banner hingga stiker lift dan eskalator. Komersialisasi juga bisa diterapkan di luar stasiun, seperti iklan pada pilar, portal hingga parapet jalur LRT Sumsel.

Dia menjelaskan terdapat 12 titik yang berpotensi menjadi ATM center, 72 titik untuk tenant dengan ukuran mulai dari 2x2 meter hingga 4x6 meter dan 36 titik untuk standing videotrone. Lalu 144 titik videotrone pilar, 36 titik baliho dan lain-lain. (ts-nda)

===

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved