Kaget Harga Bawang Melejit, Lama-Lama Kami Bisa Bangkrut

Tak hanya pembeli yang kaget dengan kenaikan harga bawang, sejumlah pedagang pun kebingungan menyikapi besaran selisih kenaikan. Mereka harus siapkan

Kaget Harga Bawang Melejit, Lama-Lama Kami Bisa Bangkrut
SRIPOKU.COM/EHDI AMIN
Ilustrasi - Salah seorang pedagang di PTM Square Lahat, yang turut mengeluhkan sepinya pembeli akibat melonjaknya harga bawang. 

SRIPOKU.COM , PALEMBANG - Tak hanya pembeli yang kaget dengan kenaikan harga bawang, sejumlah pedagang pun kebingungan menyikapi besaran selisih kenaikan. Mereka harus siapkan modal dua kali lipat untuk membeli ke agen lalu di jual kembali. Jika kondisinya terus seperti itu, pedgaang khawatir bisa bangkrut.

Berita OKU Selatan: Harga Bawang Merah dan Bawang Putih di Meroket

Menyusul Cabai Harga Bawang di Pasar 16 Meroket Naik

"Karena harus siapkan modal dua kali lipat, kalau pun sudah kita beli dari agen, pembelian warga juga menyusut. Jadi uang tidak mutar,"ucap Sakinah, pedagang di pasar 16 Ilir Palembang, Senin (1/4).

Diketahui sejak satu minggu lalu, harga bawang merah di beberapa pasar tradisional melejit tinggi, dari semula seharga Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu perkilogram. Hal ini dikarenakan beberapa wilayah di Indonesia yang menjadi produsen bawang di Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami banjir.

Pantauan Sripo, harga bawang merah di pasar tradisional KM 5 naik sebesar Rp 10 ribu. Begitu juga di pasar tradisional 16 ilir. Bawang putih dari Rp 28 ribu menjadi Rp 34 ribu, cabai keriting dari Rp 20 ribu menjadi Rp 24 ribu hingga harga daging ayam Rp 25 ribu menjadi Rp 29 ribu per kilogram. Padahal permintaan komoditas itu cukup tinggi.

Yanti, salah seorang pedagang di pasar tradisional KM 5 mengaku tidak tahu persis kenapa kenaikan komoditi itu melejit tinggi. "Iyaa harga naik, tidak tahu kenapa. Mereka pembeli terkejut melihat harga bawang yang naik dan menawar dengan harga yang minim, kalau seperti ini kita bisa tidak bisa berjualan lagi," jelasnya. Senada yang dengan, Ratna seorang pedagang di pasar tradisional 16 ilir yang mengungkapkan bahwa kenaikan harga berdampak pada pendapatan. Terlebih lagi ketika musim hujan seperti ini sayur mayur cepat membusuk.

"Kalau naik seperti ini kita bingung jualannya, kualitas pasti menurun sedangkan harga naik dan turun tak menentu,"ujarnya.

Sementara itu, Trisna salah seorang ibu rumah tangga yang heran dengan harga bawang merah naik drastis terpaksa harus menawar dengan harga semurah mungkin. Terlebih lagi beberapa kebutuhan yang naik turun tidak menentu. "Komoditas pasar naik semua, jadi kota sebagai ibu rumah tangga harus cerdas dalam berbelanja,"katanya.

Sementara Plt Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan Yustianus mengatakan untuk harga bawang merah memang sedang naik karena lokasi di beberapa wilayah terkena banjir dan itu mengakibatkan kenaikan. Memang saat ini kondisi curah hujan sedang tinggi, dan kemungkinan setelah bulan April sudah tidak lagi hujan ataupun banjir. Upaya yang dilakukan pun sudah ada yang mana bekerjasama dengan beberapa instansi ataupun petani yang ada. “Kita akan berusaha untuk menstabilkan harga itu lagi, kalau untuk stok aman dan cukup,"ujarnya. (mg4)

====

Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved