Wakil Bupati Musirawas Panen Padi SRI Organik

Wakil Bupati Musirawas Hj Suwarti memanen padi SRI organik jenis padi hitam, merah dan putih di lahan seluas 2,5 hektar, Kamis (21/3/2018).

Wakil Bupati Musirawas Panen Padi SRI Organik
SRIPOKU.COM/AHMAD FAROZI
Petani Desa Trijaya Kecamatan Bulang Tengah Suku (BTS) Ulu bersama Wakil Bupati Musirawas Hj Suwarti memanen padi organik jenis padi hitam, merah dan putih di lahan seluas 2,5 hektar, Kamie (21/3/2019). 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Ahmad Farozi 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Petani Desa Trijaya Kecamatan Bulang Tengah Suku (BTS) Ulu bersama Wakil Bupati Musirawas Hj Suwarti memanen padi SRI organik jenis padi hitam, merah dan putih di lahan seluas 2,5 hektar, Kamis (21/3/2018). Tanaman padi organik ini merupakan hasil program pendampingan PT Medco EP terhadap petani setempat.

Wakil Bupati Musirawas Hj Suwarti yang hadir saat panen padi organik memberikan apresiasi kepada petani Desa Trijaya dan pemerintah desa. Sebab para petani setempat sudah melakukan pola pertanian yang ramah lingkungan. Menurutnya hal tersebut harus dikembangkan dan diteruskan secara lebih luas lagi. Diharapkan pula petani-petani lainnya di Musirawas dapat bercocok tanam padi organik.

"Kami juga memyampaikan ucapan terima kasih kepada PT Medco atas pendampingan dan bantuan terhadap petani. Diharapkan apa yang sudah dilakukan dapat terus dikembangkan ke desa desa lainnya," kata Hj Suwarti.
Terkait kendala yang dihadapi oleh petani organik, Hj Suwarti mengharapkan agar OPD terkait di Pemkab Musirawas dapat mengiventarisasi kebutuhan dan dapat menyusun perencanaan kebutuhan petani. Sehingga petani dapat terbantu dan hasil yang didapatkan akan lebih besar sehingga kesejahteraan petani dapat tercapai.
"Kami terus mencoba menampung aspirasi yang disampaikan masyarakat. Namun untuk menyelesaikannya tentu tidak dapat sekaligus dan perlu bantuan dari berbagai pihak," ujarnya.

Salah seorang pendamping petani padi organik, Rahmad pada kesempatan itu mengungkapkan potensi lahan pesawahan tadah hujan di desa trijaya ini sebesar 25 hektar, merupakan lahan sawah yang ditelantarkan. Dari luasan tersebut saat ini yang tergarap sekitar 2,3 ha, dikelola dengan sistem SRI Organik dengan varietas padi ciliwung, sentanur, merah dan hitam.

Dijelaskan, dari lahan 2,3 ha ini, hasil ubinan per hektar lahan persawahan ini dapat menghasilkan 7,6 ton gabah atau 4,6 ton beras dengan dua kali masa panen setiap tahunnya. "Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi petani dalam pengembangan padi organik. Seperti lahan yyang ditanam merupakan lahan tadah hujan. Sehingga saat musim hujan maka sawah akan kebanjiran dan jika kemarau akan kekeringan," ujarnya.

Selain itu, untuk mengelola lahan padi organik dibutuhkan pupuk kompos yang cukup banyak. Per hektarnya dibutuhkan sekitar tujuh ton pupuk. Namun untuk pembuatan pupuk ini, petani mengalami kendala peralatan pencacah bahan pupuk dan kotoran hewan.

Karena itu diharapkan kepada pemerintah daerah dapat membuat saluran irigasi, perluasan lahan persawahan dan bantuan peralatan dan bahan baku pembuatan pupuk organik. (ahmad farozi)

Penulis: Ahmad Farozi
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved