Miliki Potensi Sebagai Komoditi Unggulan, Kopi Sumsel Malah Minim Ekspor

Ketua Dewan Kopi Sumsel (DKS), Zein Ismed mengatakan saat ini ekspor kopi Sumsel masih sangat minim, karena eksportir lebih memilih mengirim melalui L

Miliki Potensi Sebagai Komoditi Unggulan, Kopi Sumsel Malah Minim Ekspor
SRIPOKU.COM/WAHYU KURNIAWAN
Gubernur Sumsel Herman Deru bersama Kapolda Sumsel Zulkarnain Adinegara saat mencicipi kopi asli Sumsel. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -  Kopi khas Sumatera Selatan (Sumsel) memang memiliki potensi yang sangat luar biasa karena sebagai komoditi unggulan. Namun, sayangnya ekspor kopi di Sumsel masih minim. Terbukti, dari total produksi kopi sebanyak 184.166 ton yang baru diekspor di Sumsel hanya 2 ribu ton. 

Ketua Dewan Kopi Sumsel (DKS), Zein Ismed mengatakan saat ini ekspor kopi Sumsel masih sangat minim, karena eksportir lebih memilih mengirim melalui Lampung.

Karena biaya pengiriman sekspor melalui Lampung lebih murah dan efisien, pasalnya di pelabuhan Lampung merupakan pelabuhan dalam sedangkan di Sumsel hanya ada pelabuhan sungai.

“Berdasarkan data, ekspor kopi di tahun 2018 yakni 2.195 ton dengan nilai Rp 39,5 miliar sedangkan potensi produksi kopi mencapai 184.166 ton.

Pengakuan Emelda, Diselamatkan Suaminya Saat Mobil Mereka Oleng dan Menabrak Mobil di Depannya

Sikat Uang dari Dompet Yang Tertinggal di Toilet, Tukang Bentor Dijeruji

Di Sumsel itu hanya bisa satu kali ekspor hanya 5 ribu hingga 6 ribu dwt. Kalau di Lampung bisa sampai 10 ribu dwt. Jadi tentunya lebih efisien dan biaya murah," jelasnya, Kamis (15/3)

Lanjutnya lagi, padahal kopi yang dikirim melalui Lampung tersebut berasal dari Sumsel. Karena itu, kedepan dengan adanya pelabuhan TAA diharapkan mampu dikirim melalui Sumsel sehingga dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumsel. Saat ini, pihaknya juga tengah fokus untuk memperbaiki ke hulu seperti kualitas kopi. 

Ratusan Anggota Komunitas Sepeda Meriahkan Cipta Kondisi Kondusif Jelang Pilpres 2019 di Banyuasin

Sehingga, dengan meningkatnya kualitas maka pasar akan merespon. Ia menilai masih banyak yang harus diperbaiki seperti replanting, sistem panen dan pengelolaannya. Mengingat, saat ini masih ada petani yang melakukan pengoplosan kopi.

Ketua FUI Sumsel: Oknum Caleg Gunakan Mistik Merusak Nilai Demokrasi

"Jika kopi ini dioplos maka ini tidak bisa diekspor," jelasnya singkat.

Ia mengaku jika kualitas kopi semakin membaik maka tentunya pasar akan tertarik apalagi di tanaman kopi di Sumsel merupakan terbesar di Indonesia. Dengan jumlah produksi mencapai 184.165 ton.

Ditahun 2019 ini, ekspor kopi yang baru dilakukan yakni sebesar 210 ton. Dirinya berharap kedepan bisa menyaingi negara Vietnam.

Zulfirman Syah, Seniman Asal Padang dan Anaknya Jadi Korban Penembakan di Masjid Selandia Baru

"Kami dalam waktu dekat akan melakukan pembinaan terhadap petani di Muara Enim dan Lahat agar lebih mengerti pengelolaan dan lain sebagainya," ujarnya. (mg4)

Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved