Berita Palembang
Kopi Semendo Sumsel Bisa Terjual 2 Ton per Hari, Meski Kurang Digandrungi Kaum Millenial
Kopi Semendo memang dikenal sebagai kopi khas asal Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang hingga kini masih dinikmati ditengah masyarakat
Penulis: Reigan Riangga | Editor: pairat
Laporan wartawan Sripoku.com, Reigan Riangga
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Kopi Semendo memang dikenal sebagai kopi khas asal Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang hingga kini masih dinikmati di tengah masyarakat dan akrab di lidah para penikmatnya.
Memiliki aroma ciri khas rasa kopi yang kuat, Kopi Semendo masih diburu oleh penikmat kopi meski harus bersaing ketat dengan kopi sachet dan brand kopi yang terjual di kafe-kafe yang menyediakan biji kopi berasal dari mancanegara.
Salah satu pengusaha kopi Semendo di kawasan Pasar 16 Ilir Palembang, Fandi mengatakan penjualan Kopi Semendo dipasaran masih tetap tinggi khususnya masyarakat di daerah yang ada di Sumsel.
Ini dibuktikan dalam dua hari, dirinya bisa meraih penghasilan mencapai Rp 20 juta dengan rata-rata menjual kopi Semendo hingga 2 ton, meski harus bersaing dengan brand kopi ternama di era industri milenial seperti sekarang.
“Dalam sehari atau dua hari saya bisa jual hingga 2 ton lebih kopi Semendo. Jika sepi itu bisa 1,5 ton dan apabila lagi tinggi-tingginya itu bisa 2,5 ton,” ungkap Fandi, Sabtu (23/2/2019).
• Diduga Salah Tangkap Pelaku Pemerkosaan Bidan YL, Dirkrimum Polda Sumsel Angkat Bicara
• Simpan 80 Gram Sabu di Rumah, Pria di Musirawas Ini Diamankan Petugas
Menurut dia, Kopi Semendo sendiri harganya masih relatif stabil dipasaran dikisaran Rp25 ribu - Rp 60 ribu per kilogram dan menjadi alasan bagi penikmat kopi, sehingga bisa terjangkau dan tetap bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.
Fandi mengaku kopi Semendo sendiri juga diburu oleh penikmat kopi tidak hanya dari Sumsel saja, melainkan, ada yang dari Bangka Belitung dan beberapa kota yang ada di pulau Jawa untuk membeli kopi di sini.
Meski begitu, kata Fandi kopi Semendo saat ini kurang dinikmati oleh kaum milenial, karena mereka lebih tertarik dengan brand kopi berasal dari luar negeri yang dijual di kafe-kafe.
“Penikmat kopi Semendo ini banyak disukai oleh masyarakat yang sudah berusia di atas 30 tahun ke atas, sedangkan untuk kaum milenal masih rendah sekali,” jelasnya.
Fandi menambahkan, dirinya berharap pemerintah daerah harus turut serta mengembangkan kopi Semendo sehingga tidak kalah bersaing dengan brand kopi lainnya.
“Pemerintah juga harus turut serta membudayakan kopi lokal itu bisa masuk ke dalam menu-menu yang ada di kafe-kafe sehingga kopi lokal ini bisa tetap eksis,” harapnya.
Senada diungkapkan pedagang kopi lainnya, Rizka Fitra yang mengklaim peminat kopi Semendo masih relatif tinggi dari tahun ke tahun di tengah banyaknya brand kopi saat ini yang memang tengah berkembang.
Menurutnya, daya beli masyarakat khususnya penikmat setia kopi Semendo di daerah-daerah ini masih kuat karena saat ini sudah mulai memasuki musim panen.
“Jadi, masyarakat di daerah-daerah itu penghasilannya sekarang tinggi karena musim panen, sehingga mereka banyak yang membeli kopi Semendo,” terangnya.