Rupiah Menguat, Ini 4 Faktor Pendorongnya Menurut Gubernur BI

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali menguat setelah pekan lalu kembali memasuki kisaran level Rp 14.100. Di pasar spot Bloomberg,

Rupiah Menguat, Ini 4 Faktor Pendorongnya Menurut Gubernur BI
Kompas/Hendra A Setyawan K
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM , JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali menguat setelah pekan lalu kembali memasuki kisaran level Rp 14.100. Di pasar spot Bloomberg, Senin (28/1/2019) rupiah diperdagangkan pada Rp 14.050 per dollar AS, menguat 42,05 poin atau 0,3 persen dibandingkan penutupan perdagangan pekan lalu yang berada pada posisi Rp 14.092 per dollar AS.

Berita Lainnya:
Nilai Tukar Rupiah Siang Ini Tembus Rp 15.000 Per Dollar AS
Usaha Tempe Ikut Terdampak Imbas dari Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar

Gubernur Bank Indonesia (BI) perry Warjiyo mengatakan, setidaknya terdapat empat faktor yang mendorong penguatan pergerakan rupiah.

Faktor pertama, kepercayaan investor asing terhadap pasar dalam negeri cenderung meningkat. Perry mengatakan, aliran modal asing terus masuk ke Indonesia, tidak hanya melalui penanaman modal asing (PMA) namin juga investasi portofolio baik melalui obligasi, saham, maupun jenis aset lain.

"Alhamdulillah, rupiah terus bergerak stabil dan cenderung menguat," ujar Perry ketika memberikan panjelasan kepada awak media pada acara Ulang Tahun ke 64 Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta.

Kedua, sinergi kebijakan antara pemerintah, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menjaga stabilitas pasar keuangan mendukung prospek ekonomi dalam negeri yang lebih baik. Menurut Perry, kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah terkait penyederhanaan aturan deposito Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk mengoptimalkan kinerja ekspor dalam negeri.

"Kebijakan yang baru dikeluarkan pemerintah untuk prosedur yang tidak perlu dalam mendorong ekspor bisa dihilangkan dan juga penataan logistik sebagaimana diketahui sejumlah prosedur terkait lembaga surveyor, larangan terbatasm maupun pengaturan logistik di pelabuhan untuk ekspor akan sangat disederhanakan," sebut Perry.

Perry mengatakan, beberapa sektor yang memiliki potensi untuk terus digenjot agar berkontribusi dalam mendorong ekspor adalah sektor garmen, makanan dan minuman, serta elektronik.

Pemerintah pun juga terus berupaya melakukan substitusi impor untuk produk baja dan farmasi.

Hal ketiga, mekanisme pasar valuta asing (valas) semakin berkembang, baik di pasar spot, swap, maupun domestic non delivery forward (DNDF).

Halaman
12
Editor: Bejoroy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved