374 Warga Sumsel Dipasung, Tiga Daerah Tertinggi Masalah Kejiwaan

Pengetahuan masyarakat terkait deteksi dini masalah kejiwaan kerap dianggap sepele. Padahal jika ada menemukan seseorang dengan indikasi gangguan keji

374 Warga Sumsel Dipasung, Tiga Daerah Tertinggi Masalah Kejiwaan
Internet
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM , PALEMBANG - Pengetahuan masyarakat terkait deteksi dini masalah kejiwaan kerap dianggap sepele. Padahal jika ada menemukan seseorang dengan indikasi gangguan kejiwaan bisa berakibat fatal, bila dibiarkan dan tidak ditangani dengan serius.

Berita Lainnya:
Alami Gangguan Jiwa, Warga Desa Tanjung Agung, Kecamatan Suka Merindu, Lahat Ini Terpaksa Dipasung
Penderita Gangguan Jiwa Ini Terpaksa Dipasung, Berkat Kordinasi Tripika Kini Dirawat di Pesantren

Untuk di Sumsel sendiri, Dinas Kesehatan Sumsel mencatat ada sekitar 7.300 kasus gangguan jiwa. Dari angka itu, beberapa kabupaten tertinggi seperti Musi Banyuasin (Muba), Musirawas dan Empat Lawang.

Salah satu dosen keperawatan deteksi dini ODGJ STIK Bina Husada Palembang, Mareta Akhiriansyah, SKep, Ners, MKep mengatakan, dari angka 7.300 tersebut, 374 warga di antaranya adalah pasien yang dipasung.

"Artinya kasus pemasungan pasien gangguan jiwa ini masih kerap terjadi. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat untuk penanggulangan atau perawatan pasien gangguan jiwa," ujarnya dalam Seminar keperawatan nasioanal yang mengangkat tema pencegahan dan deteksi dini gangguan jiwa di masyarakat Sumsel di gedung Serbaguna RS Ernaldi Bahar, Sabtu (26/1).

Ia menambahkan, karena minimnya pengetahuan ini pasien gangguan jiwa malah dipasung dan dikurung. Maka itu melalui seminar ini pihaknya ingin memberikan informasi bagaimana mengatasi apabila ada pasien gangguan jiwa. "Kita ingin mendukung program Dinkes Sumsel, yakni harus bebas pasung 2019," ujarnya.

Menurutnya, pihak keluarga harus bisa mengenali tindak dan prilaku anggota keluarga lainnya, karena sumbagsih paling besar adalah keluarga. "Sayangnya masih banyak yang tidak peduli dengan anggota keluarga dan mengenali bakal-bakal faktor penyedia dan faktor pencetus. Kami ingin mengajak masyarakat lebih banyak tahu agar tidak sembarangan memberi tindakan. Deteksi dini bisa memperkecil peluang pasien gangguan jiwa untuk lebih parah," ungkapnya.

Maka itu penatalaksanaaan masalah kesehatan jiwa tidak bisa lepas dari RS saja. Harus ada koordinasi lintas sektor, mulai dinas kesehatan, pendidikan, puskesmas hingg RS jiwa harus bergerak semua. "Kalau pemerintah dan lintas sektor lainnya bekerjasama, angka pasien gangguan jiwa ini bisa menurun. Yang perlu diingat adalah sasarannya yakni masyarakat. Jangan saat ketika pasien sudah parah baru dibawa ke RS," tegasnya.

Sementara itu, Ersita, Ketua Ikatan Alumni Perawat Bina Husada, menambahkan dalam seminar ini turut menghadirkan pembicara kompoten di bidangnya seperti Prof. Budi Anna Keliat, S.Kep M.AppSc selaku guru besar UI, Dr. Amar Muntaha SKM, MKes selaku ketua IAKMI Sumsel, H. Subhan, SakM, M.Kes selaku ketua SPW PPNI Sumsel dan Mareta Akhiriansyah S.Kep, Ners, M.Kep. "Peserta yang hadir mulai dari perawat, mahasiwa dan umum. Temanya selalu kita sesuaikan setiap tahun," ujarnya. (cr9)

Story Highlights
- Sumsel terdapat 7.300 warga gangguan jiwa
- 374 warga di antaranya dipasung
- Daerah tertinggi, Muba, Mura, dan Empat Lawang
- Perlunya deteksi dini keluarga

====

Tonton Video Terbaru di Youtube Sriwijaya Post!
Dont Forget Like, Comment, Subscribe and Share!
Penulis: Yuliani
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved