Kesal Satpol PP Main Angkut, Zubaidah Teriaki Wawako Palembang

Zubaidah, pedagang pasar 10 Ulu kesal lantaran barang dagangnya diangkut oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Dia langsung mencela dan

Kesal Satpol PP Main Angkut, Zubaidah Teriaki Wawako Palembang
SRIPOKU.COM/CR2
SIDAK - Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda saat sidak di Pasar 10 Ulu Palembang. 

SRIPOKU.COM , PALEMBANG - Zubaidah, pedagang pasar 10 Ulu kesal lantaran barang dagangnya diangkut oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Dia langsung mencela dan meneriaki Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda yang saat itu sedang melakukan sidak, Jumat (28/12).

Berita Lainnya:
Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda 2 Hari Tongkrongi Pembersihan Sungai Serengam
Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda Ingatkan Warga Silaberanti untuk Lekas Rekam e-KTP

"Kami disini bayar dan separuh barang kami diangkut. Tentu kami tidak terima barang dibawa dengan alasan kiosnya tidak ditunggu," katanya. Suasana keributan pun tak terelakkan. Pedagang enggan barangnya diangkut petugas, karena merasa membayar dan menyewa lapak tersebut.

Zubaidah sendiri mengaku dirinya sudah membayar retribusi yang telah ditentukan meski berat lantaran sekarang sudah sepi pembeli.

Sedangkan, untuk berdagang disini saja, dirinya harus mencari pinjaman uang untuk dijadikan modal. Untuk retribusi pedagang membayar Rp 5.000 per hari, Rp 2.000 untuk kebersihan dan Rp 25.000 perbulan untuk keamanan. Jadi perhari pedagang menyetor sebesar Rp 11.000.

"Kami disini perlu makan. Modal dari utang saja kami belum kembali harus sudah diangkut. Kami harap kalau mau pasar ini merata, pedagang si luar juga bisa dimasukkan agar kami bisa berdagang dengan tentram dan nyaman," jelasnya.

Diketahui Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda melakukan sidak (Inspeksi mendadak) di pasar 10 Ulu Palembang, lantaran adanya dugaan jual beli lapak dagangan oleh oknum tak bertanggung jawab.

Fitri mengatakan, berdasarkan pantauan perkembangan Pasar 10 Ulu Palembang, seperti retribusi, kebersihan serta mendata pemilik lahan kios dagangan. Dimana, temuan dilapangan banyak tumpang tindih kepemilikan lapak.

"Kios yang sudah pedagang sewa, jadi merasa milik pribadi, sehingga banyak menyewakan kembali kepada pedagang lain dan ini yang salah, makanya kita data dan beri tanda kios mana saja yang kosong," ungkapnya di sela Sidak di Pasar 10 Ulu Palembang.

Menurutnya, hal ini penting dilakukan, mengingat masih banyak pedagang yang berjualan di luar pasar, dari itu, pihaknya berharap para pedagang yablng masih berada di jalanan agar bisa masuk ke dalam pasar 10 Ulu Palembang ini. "Saat kita tertibkan pedagang di jalanan, mereka bilang di dalam sudah penuh dan ternyata masih banyak yang kosong," jelas dia.

Menanggapi adanya dugaan lapak yang di jual belikan oknum, politisi PDIP ini belum bisa memberikan komentar, lantaran masih banyak lapak yang kososng dari hasil pantauan tersebut.

"Pasar 10 Ulu ini semuanya aset milik Pemkot. Jadi, saya pastikan tidak boleh lapak ini di jual belikan kecuali dari pemerintah ke masyarakat,"katanya. Terkait keluhan pedagang, lantaran merasa kekalahan membayar retribusi pasar, seperti kebersihan serta keamanan. Dari total yang telah didata, kios lapak pedagang ukuran 1x1 meter ini berjumlah 306 kios dan 114 kios yang kosong. (cr2)

===

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved