Buya Menjawab

Berobat Alternatif atau 'Orang Pintar'

setelah menderita penyakit yang berkepanjangan dan sudah berobat secara medis belum juga sembuh, lalu berusaha berobat kepada "orang pintar" atau

Berobat Alternatif atau 'Orang Pintar'
Internet
Ilustrasi - Suasana ruqyah terhadap para asatiz dan santri Ponpes se Sumsel di Aula Gedung Sekretariat Forpess Jalan Kolonel H Barlian Km 10 persis di belakang Polsekta Sukarami Palembang, Minggu (27/9). Insert : Ust Achmad Junaedi Hasan Ali 

SRIPOKU.COM - Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
BUYA setelah menderita penyakit yang berkepanjangan dan sudah berobat secara medis belum juga sembuh, lalu berusaha berobat kepada "orang pintar" atau alternatif. Apa dibolehkan dalam Islam, dan bolehkah kita memberi imbalan atau dia meminta imbalan, mohon penjelasan Buya. Terimakasih.
08527332xxxx

Berita Lainnya:
Ratusan Warga Ikut Ruqyah Massal di Masjid Agung Muaraenim
Cepat Lakukan Ruqyah Jika Anda Merasakan Hal ini Terjadi Pada Tubuh Anda

Jawab
Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
UNTUK kesembuhan dari penyakit dianjurkan dalam ajaran agama Islam berobat, sebagai salah satu ikhtiar. Diantara pengobatan alternatif itu berupa doa-doa yang disebut dengan ruqyah. Hukumnya boleh karena Rasulullah SAW pernah mengajarkan bermacam-macam doa untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Diantaranya: "Dari Masruq dari 'Aisyah, bahwa Nabi SAW. mengobati sebagian keluarganya. Beliau mengusap dengan tangannya yang kanan seraya berdoa (yang artinya) "Ya Allah SWT. Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah dia, karena Engkau adalah Dzat yang dapat menyembuhkan, tidak ada kesembuhan (yang hakiki) selain kesembuhan dari-Mu. Dengan kesembuhan yang tidak akan berlanjut dengn kekambuhan." (Shahih al-Bukhari,5302).

Dari hadits yang lain, yang artinya: "Dari Utsman bin Abi al-'Ash bahwa beliau mengadu pada Nabi SAW. Tentang penyakit yang ia deritanya sejak masuk Islam. Nabi SAW. Kemudian bersabda: "Letakkan tanganmu dianggota badanmu yang sakit. Lalu bacalah Basmalah tiga kali dan Bacalah: A'UUZU BI'IZZATILLAAHI WAQUDROTIHI MIN SYARRIMAA AJIDU WA UHAZIR (Aku berlindung kepada Allah SWT. Dari keburukan apa yang aku rasakan dan aku takutkan) sebanyak tujuh kali". (Shahih Muslim 4082).

Atas dasar hadits-hadits di atas maka dibolehkan berobat dengan mnggunakan doa-doa bermohon kepada Allah SWT. untuk kesembuhan penyakit kronis, karena yang menyembuhkan penyakit tersebut adalah Allah SWT.

Apakah boleh orang yang mengobati tersebut meminta imbalan jasa? Jawabnya dibolehkan berdasarkan hadits: "Dari Abu Sa'id al-Khudri RA., beliau berkata, "Suatu ketika Rasulullah SAW. mengutus kami sebanyak tiga puluh rombongan berkuda, untuk pergi ke sebuah daerah. Lalu kita mampir di suatu pemukiman kaum Arab. Kami meminta agar mereka mau menjamu rombongan kami, namun mereka menolaknya. Setelah itu kepala suku mereka disengat kalajengking. Salah seorang mereka datang kepada kami dan berkata, "Apakah kalian punya doa-doa yang dapat digunakan untuk menyembuhkan sengatan kalajengking?" Saya menjawab, "ya saya bisa, tapi saya tidak akan mengobati pemimpinmu itu kalau kamu tidak memberikan imbalan pada kami". Mereka menjawab, "Baiklah kami akan memberikan upah sebanyak tiga puluh ekor kambing." Abu Said al Khudri melanjutkan ceritanya. "Setelah itu aku membacakan surah al-Fatihah sebanyak tujuh kali. (setelah sang pemimpin sembuh) kami menerima tiga puluh kambing itu, kemudian kami ragu, lalu mendatangi Rasulullah SAW. Dan menceritakan kejadian tersebut. Setelah itu Rasulullah SAW. bersabda, "Tahukah kamu bahwa surat Al-Fatihah itu merupakan doa yang telah kamu gunakan dan hasilnya kamu berikan kepadaku." (Musnad Ahmad 10648).

Dari hadits di atas dapat diamhil kesimpulan boleh orang yang mengobati menerima imbalan berdasarkan keridloan keluarga/orang yang berobat.

Demikian penjelasan pertanyaan ananda. (*)

===

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved