Berita Banyuasin

Petani Kelapa di Kabupaten Banyuasin Terlilit Utang di Agen. Ini Penyebabnya

Petani Kelapa di Kabupaten Banyuasin Terlilit Utang di Agen. Ini Penyebabnya

Petani Kelapa di Kabupaten Banyuasin Terlilit Utang di Agen. Ini Penyebabnya
SRIPOKU.COM/RAHMALIYAH
Perwakilan Asosiasi Petani Kelapa Banyuasin, Muhammad Asri 

Petani Kelapa di Kabupaten Banyuasin Terlilit Utang di Agen

Laporan wartawan Sripoku.com, Rahmaliyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Penurunan harga jual kelapa yang cukup signifikan saat ini berimbas ke kehidupan petani kelapa kian miris.

Betapa tidak, gejolak harga yang sudah tejadi sejak setahun terakhir ini membuat petani kelapa ada yang harus menjual kebun, anak-anak petani stop kuliah hingga petani harus menumpuk utang di agen kelapa.

Perwakilan Asosiasi Petani Kelapa Banyuasin, Muhammad Asri menjelaskan, harga jual kelapa di tingkat petani saat ini hanya berkisar Rp 700-1.000 perbutir, padahal normalnya Rp 2.000-3.000 perbutir.

Begitu juga kopra sebelumnya Rp 8.000-Rp11.000 kini hanya berkisar Rp 4.000-Rp 5.000.

Sebab, dengan harga sekarang Rp 300 untuk upah, Rp 200 untuk perbaikan dan perawatan lahan sehingga petani hanya memperoleh pendapatan bersih berkisar Rp 500 ribu -1 juta setiap masa panen (pertiga bulan), padahal dulu bisa Rp 5 juta perhektar.

"Walau mereka masih berharap harga kelapa membaik, petani tanpa ada perjanjian dan hanya berlandaskan kepercayaan mereka kemudian hutang dulu ke agen dan bayar jika sudah panen. Sebab, selama ini belum ada bentuk permodalan atau koperasi dari Pemerintah," ungkapnya, usai rapat Rapat membahas mekanisme Tata Niaga Kelapa agar Harga di tingkat Petani dapat stabil serta Pengembangan industri kecil kelapa di Kab. Banyuasin, Kamis (20/12/2018).

Selain itu, mata rantai pasar kelapa juga terlalu panjang, mulai dari Petani ke agen saja bisa tiga tahapan belum lagi hubungan ke eksportir sehingga memakan biaya Rp 100-Rp 500, dengan negara tujuan ekspor yakni Cina dan Thailand.

"Jadi harus ada intervensi di pasarnya untuk menyikapi permasalahan harga ini, artinya untuk melihat apakah memang harga pasaran turun sebegitu atau karena ada permainan. Kalau di tingkat pengusaha masih diangka Rp 2.000, jadi ada selisih harga cukup besar sementara saat dicek pada produk turunannya tak mengalami penurunan," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Rahmaliyah
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved