Berita Palembang

PON Belum Tentu Bisa Jadi Acuan Medali Acuan Prestasi Karena Eksodus Atlet, Ini Alasannya

beberapa fenomena terjadi dalam pembinaan atlet di Indonesia yang membuat negara ini tertinggal dari atlet negara lain.

PON Belum Tentu Bisa Jadi Acuan Medali Acuan Prestasi Karena Eksodus Atlet, Ini Alasannya
SRIPOKU.COM/RESHA
Departemen Sport, Sport Science ITB Professor Apriantoni saat menjadi narasumber di Rakor Litbang Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel hari kedua, Jumat (7/12/2018) 

Laporan Wartawan Sripoku.com , Resha

SRIPOKU.COM, PALEMBANG--Departemen Sport,  Sport Science ITB, Professor Apriantoni mengatakan, beberapa fenomena yang terjadi dalam pembinaan atlet di Indonesia yang membuat negara ini tertinggal dari atlet dari negara lain. Sebut saja Jepang, China, Korea Selatan, Singapura, ataupun negara-negara dari Eropa.

“Yang terjadi di kita, atlet sering berpindah-pindah,” ucapnya saat menjadi narasumber di Rakor Litbang Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel hari kedua, Jumat (7/12/2018).

Sehingga, capaian medali di even Pekan Olahraga Nasional (PON) tak bisa menjadi gambaran dari hasil pembinaan. Karena, kerapkali atlet yang turun datang dari provinsi lain.

Hal itu berbeda dengan Jepang, yang mempunyai regulasi yang jelas dan benar-benar diterapkan. Jika atlet sudah memperkuat daerah asalnya, maka sudah tidak bisa pindah lagi,

Hasil analisa, salah satu alasan atlet pindah karena bonus dari daerah lain lebih besar. Artinya pemikiran atlet juga lebih ke materi atau bonus jika berhasil menyabet medali emas, berbeda dengan Jepang yang jika ada atlet meraih medali di event setingkat PON seperti di Indonesia diberikannya beasiswa.

“Jadi lebih pada pendidikan atlet. Itu merata, jadi selain ada aturan yang jelas tak boleh perkuat daerah lain, tidak ada perbedaan soal bonus,” tambahnya.

Dinas Perdagangan Lahat Pantau Harga Bahan Pokok Menjelang Natal dan Tahun Baru

Kisah Tukang Cuci Mobil Jadi Pengusaha Sukses hingga Punya 16 Mobil Mewah Tapi Tak Punya Rumah

Hadapi Akhir Liga I Lawan Arema, Sriwijaya FC Ditinggal Salah Satu Pemain Andalan. Ini Alasanya

Prof Apriantoni juga menyampaikan, jika setiap provinsi harus fokus melakukan pembinaan pada cabor-cabor unggulan. Seperti Lampung yang selalu berada di deretan 10 besar dalam beberapa PON terakhir.

“Itu karena mereka fokus pada beberapa cabor unggulan, jadi atletnya bisa berprestasi di PON ataupun event internasional,” jelasnya.

Di sisi lain, ia menambahkan Sport science juga punya peranan sangat penting dalam pembinaan atlet untuk meraih prestasi tertinggi. Di Jepang atau negara di Eropa misalnya, dari cabor sepakbola bukan prestasi yang dikejar, tapi melahirkan atlet yang berkualitas.

Mereka dengan sport science mendapati jika pemain sepakbola berusia 8-12 tahun masih bisa dirubah, gaya bermain, posisi, skill dan lain-lain. Tapi, jika lebih dari itu sudah sulit untuk dirubah lagi.

“Jadi turnamen atau event olahraga yang digelar, tujuannya hanya supaya atlet main bagus saja. Tapi kalau di sini, meski diusia dini prestasi yang dikejar,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua I Bidang Penelitian dan Pengembangan KONI Sumsel Iyakrus yang juga menjadi narasumber, mengambil judul ‘Jalan Terjal Menuju PON Papua’. Iyakrus mengungkapkan jika gagasan itu diambil karena memang di PON Papua 2020 tidak bakal mudah, karena prestasi atlet Sumsel belakangan terus menurun.

“Tapi bukan tidak ada jalan atau peluang berprestasi di PON nanti. Masih ada jalan meski terjal,” jelasnya. (mg5)

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved