Buya Menjawab

Bersentuhan dengan Bukan Muhrim

Saya bingung dengan simpang siurnya pendapat tentang bersentuhan dengan perempuan bukan muhrim; ada yang mengatakan tidak batal wudhu' dan ada yang

Bersentuhan dengan Bukan Muhrim
youtube.com
Ilustrasi - Salaman dengan wanita bukan muhrim. 

SRIPOKU.COM - Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
BUYA mohon pencerahan. Saya bingung dengan simpang siurnya pendapat tentang bersentuhan dengan perempuan bukan muhrim; ada yang mengatakan tidak batal wudhu' dan ada yang menyatakan batal. Yang mana baiknya saya pedomani. Terimakasih Buya.
0812710xxxx

Jawab:
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.
YANG berpendapat batal wudhu' apabila bersentuhan dengan wanita bukan mahrom adalah Imam Syafi'i. Batal wudhu' bagi yang menyentuh dan yang disentuh, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab .al Fiqh al Manhaji; "Seorang laki-laki yang menyentuh isterinya atau perempuan ajnabiyah (yang bukan mahramnya) tanpa penghalang maka wudhu' laki-laki dan perempuan itu menjadi batal. Yang dimaksud dengan ajnabiyah (perempuan lain) adalah setiap wanita yang halal dinikahi".(Al-Fiqh al-Manhaji, Vol.Ik, hlm.63)

Pendapat tersebut mengacu pada Firman Allah SWT dalam surah an-Nisaa' ayat 43 yang artinya; "Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari buang air atau kamu menyentuh perempuan lain (yang bukan mahramnya), kemudian kamu tidak menjumpai air, maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)." (an-Nisaa'; 43)

LAA MASTUM pada ayat di atas diartikan makna hakiki menurut Imam Syafi'I bermakna menyentuh, bukan bersetubuh (sebagaimana diartikan oleh Imam Hanafi yang mengartikannya dengan makna majaz).

Atas analisis tersebut, maka dalam kitab al-Muaththa' dinyatakan: "Dari Abdullah bin Umar ia berkata, "Kecupan seorang suami kepada isterinya dan menyentuh dengan tangannya termasuk mulamasah. Maka siapa yang mengecup isterinya atau menyentuhnya, maka wajib melakukan wudhu'". (Al-Muaththa' Vol.II.,hlm.65)

Adapun di dalam hadits yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersentuhan dengan sebagian isterinya menurut hadits Aisyah RA. maka menurut Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu';

"Jawaban atas hadits `Aisyah RA. tentang menyentuhnya tangan beliau ketumit Nabi Muhammad SAW. maka boleh jadi menggunakan tabir".(Al-Majmu' Vol.II.,hlm. 22). Jadi menurut hemat kita, pedomanilah apa yang dinyatakan oleh para ahli hukum tersebut di atas. (*)

Keterangan:
Konsultasi agama ini diasuh oleh Buya Drs H Syarifuddin Yakub MHI.
Jika Anda punya pertanyaan silahakan kirim ke Sriwijaya Post, dengan alamat Graha Tribun, jalan Alamasyah Ratu Prawira Negara No 120 Palembang. Faks: 447071, SMS ke 0811710188, email: sriwijayapost@yahoo.com atau facebook: sriwijayapost

====

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved