Berita Palembang

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat

Menyandang seorang mantan napi teroris (napiter), tentu saja membuat Abdurrahman Taif sempat khawatir akan kehidupannya pasca bebas dari jeruji besi.

Kisah Mantan Napiter di Palembang Keliru Pahami Jihad, Taif Bersyukur Masih Diterima Masyarakat
SRIPOKU.COM/YULIANI
Rumah mantan Napi Teroris jaringan Al Qaedah kelompok Palembang Taif, yang berlokasi di Lebong Siarang. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Yuliani

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Menyandang seorang mantan napi teroris (napiter), tentu saja membuat Abdurrahman Taif sempat khawatir akan kehidupannya pasca bebas dari jeruji besi. Pria kelahiran tahun 1973 ini mengaku sempat berbuat kesalahan karena ketidakpahaman kondisi Indonesia untuk berjihad Amaliah pada saat itu.

Sempat menjalani masa tahanan selama tujuh tahun, Taif pun mendapat pemahaman seutuhnya dan menyadari jika tindakannya di masa lalu merupakan kesalahan. 

Saat ditemui Sripoku.com di kediamannya belum lama ini, ayah dari sepuluh anak ini menyambut ramah dan penuh senyum. Sebuah gerobak nasi goreng berada di halaman yang asri dan penuh tanaman. Taif mengaku rumah yang bertempat di Lebong Siarang Palembang ini sudah milik sendiri dan dibeli sebelum ia ditahan.

“Jadi saya tidak khawatir anak istri tinggal dimana selama saya ditahan kemarin, karena sudah punya rumah sendiri. Alhamdulillah keluarga juga banyak yang membantu untuk perekenomoian keluarga saat itu,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Keterlibatan Taif dalam jaringan teroris Al Qaeda yang berkiblat pada Noordin M Top pada kasus bom Bali 2002 silam tentu bukannya disengaja. Sebelum kejadian pria asal Klaten Jawa Tengah ini memang sering ikut pengajian untuk belajar ilmu agama.

“Waktu itu saya dan beberapa teman sedang lagi bersemangat cari ilmu agama. Kemana-mana belajar termasuk dari beberapa sumber. Kemudian kita aktif di orgnisasi yang bergerak di Dakwah juga sekitar tahun 2000,” ungkapnya.

Ia mengaku pada saat itu sangat bersemangat sekali mencari ilmu seperti Fiqih, Tauhid dan sebagainya. Namun ia dan kumpulan pengajiannya jarang sekali mendapat pemahaman masalah jihad. “Ketika bertemu dengan pemahaman itu otomatis kami antusias karena jihad itu banyak sekali keutamaannya. Istilahnya puncak tertinggi dalam Islam. Ada lima sendi yang mana sholat tiangnnya dan puncaknya jihad,” ujarnya.

Berangkat dari rasa antusias itulah ia bersemangat belajar jihad. Taif mengaku untuk ilmu agama yang lain sudah dipelajari semua, kecuali tentang jihad. Makanya ketika disentuh masalah jihad yang ilmunya masih terbatas, otomatis ia bersemangat. “Pada saat itu saya dan yang lainnya keliru dalam memahami jihad. Karena kalau kita lihat keadaan sekarang untuk jihad Amaliah di Indonesia sebenarnya belum pas karena mayoritas banyak kaum muslim. Jika berbenturan dengan orang kafir (non muslim) maka otomatis akan bersentuhan dengan Muslim di Indonesia yang jadi korban,” jelasnya.

Akibatnya efek seperti itulah yang pada saat itu tidak ia pikirkan. Karena motivasinya terlalu tinggi, jadi tetap melakukan jihad Amaliah dalam keadaan apapun. Hal ini dilakukan Taif meskipun ia sebenarnya belum mengetahui tujuan ia melakukan jihad untuk apa. Karena pada saat itu ia merasa inilah pengorbanan yang tepat untuk mencapai puncak tertinggi dalam mengamalkan ajaran Islam.

Halaman
1234
Penulis: Yuliani
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved