Senator Siska: Kuota 30 Persen Kursi Perempuan Bukan Tiket Gratis ke Parlemen

Anggota DPD RI Siska Marleni SE MSi mengingatkan kaum perempuan jika kebijakan kuota 30 persen perempuan bukanlah tiket gratis ke parlemen, namun jadi

Senator Siska: Kuota 30 Persen Kursi Perempuan Bukan Tiket Gratis ke Parlemen
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Anggota DPD RI Siska Marleni SE MSi (kedua dari kanan) memberikan pandangan pada Ngobrol Pintar dan Inspiratif (Ngopi) bareng bung FK (Fatkhurrahman) dengan tema Cantik Berpolitik di Lord Cafe & Resto, Kamis (8/11/2018). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Anggota DPD RI Siska Marleni SE MSi mengingatkan kaum perempuan jika kebijakan kuota 30 persen perempuan bukanlah tiket gratis ke parlemen, namun jadikan sebagai motivasi berjuang keras.

"Saya memandang perempuan harus memiliki kesempatan yang sama dari pria. Akan lebih menguat lagi kalau harus 30 persen kuota gender sudah representatif. Ini harus didukung berbagai pihak terutama dari Parpol.

Di sisi lain saya ingin menyampaikan kepada perempuan kalau 30 persen ini bukan tiket gratis ke parlemen.

Perjuangannya luar biasa kalau punya kesempatan yang sama. Untuk menjadi motivasi kepada perempuan untuk lebih bisa berjuang terus melakukan usaha dalam mencapai wakil rakyat ditingkatan apapun," ungkap Siska Marleni saat menjadi kandidat memberikan pandangannya pada Ngobrol Pintar dan Inspiratif (Ngopi) babreng bung FK (Fatkhurrahman) dengan tema Cantik Berpolitik di Lord Cafe & Resto, Kamis (8/11/2018).

Acara yang dipandu moderator Fuad Kurniawan ini turut menyampaikan pendapatnya seperti Pengamat Politik Fatkurrohman SSos dan Dewi Ratih Anggraini SIP MSi.

"Kalau bicara cantik berpolitik, yang pertama yang bisa saya makna tentunya ke perempuan yang memasuki dunia berpolitik.

Yang kedua, apapun berpolitik propaganda dengan tetap menjaga etika, santun dalam situasi keadaan. Meskipun politik itu sikut sana-sini. Dua poin besar yang saya artikan itulah," kata Siska.

Selama Siska mengaku sebelum menjalankan politik, sebagai akademisi, dirinya menempatkan politik yang santun, yang etis dan tidak belah bambu.

"Memang dalam perjalanan orang akan melakukan perbandingan kinerja dan capaian.

Saya sampaikan dengan staf saya agar menyikapinya dengan mengambil pelajaran dari sana apa yang diinginkan masayarakat," pungkasnya. (Abdul Hafiz)

Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved