News Video Sripo

Terancam Turun Omset Produsen Kerupuk Gelisah Hadapi Musim Hujan

Produsen kerupuk kemplang di Kota Palembang dibuat pusing dengan dimulainya musim hujan sejak akhir Oktober

Laporan Wartawan Sripoku.com, Rahmad Zilhakim

SRIPOKU.COM,PALEMBANG - - Produsen kerupuk kemplang di Kota Palembang dibuat pusing dengan dimulainya musim hujan sejak akhir Oktober.

Oleh karena cuaca tersebut para produsen kerupuk harus memakan waktu lebih lama untuk penjemuran.

Seperti produsen kerupuk NZ Cek Ning yang berada di kelurahan 7 Ulu Khodijah mengatakan penjemuran bisa hampir satu minggu.

"Sekarang sering sekali mendung, akibatnya kerupuk yang di jemur semakin lama keringnya, bisa sampai 4 -5 hari, normalnya cukup 2 - 3 hari, kualitas kerupuk juga berkurang," kata aalah satu produsen kerupuk 'NZ Cek Ning' di Keluruhan 7 Ulu Khodijah

Menurutnya jika kerupuk dijemur di bawah sinar matahari yang kurang dan terlalu lama, akan muncul rona-rona merah pada permukaan kerupuk saat digoreng, kondisi tersebut banyak tidak disukai pembeli, akibatnya ia terpaksa menurunkan harga kerupuk.

Dia menerangkan pabriknya terpaksa menurunkan jumlah produksi kerupuk guna meminamilisir kerugian, pabriknya biasa memproduksi 50 Kilogram adonan kerupuk perhari, namun pada musim hujan turun menjadi 20 Kilogram perhari.

Meskipun demikian jumlah permintaan tidak mengalami penurunan, karena pabriknya sudah mendistribusikan beraneka kerupuk seperti kerupuk kriting, kerupuk anggur, kerupuk kepang dan kerupuk kemplang ke beberapa toko di Kota Palembang.

Ia mengungkapkan harus mengeringkan kerupuk-kerupuk tersebut menggunakan kipas angin, jika dalam beberapa hari sinar matahari dirasa kurang.

"Kerupuknya dijajarin terus dikeringkan pakai kipas angin, ya artinya pengeluaran kami malah tambah besar karena bayar listrik tambahan, tapi terpaksalah supaya stok tetap cukup," ujar Khodijah yang mengaku pabriknya sudah 34 tahun memproduksi kerupuk kemplang.

Dia menambahkan kerupuk biasanya di jual dengan harga Rp 70.000 - 90.000 perkilogram, namun pada musim hujan bisa turun Rp 60.000 - Rp 70.000 perkilogram, alhasil omset yang didapatnya pun ikut menurun hingga 30 persen, karena kualitas kerupuk kemplang yang sering tidak bagus.

Penulis: Rahmad Zilhakim
Editor: Igun Bagus Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved