Jeratan Ekonomi Sampiran

Dalam berbagai tulisan di media massa, pakar ekonomi menguraikan ada 5 sumber gejolak baru ekonomi internasional

Jeratan Ekonomi Sampiran
ist
Bahrul Ilmi Yakup

Oleh karena memiliki kedaulatan ekonomi, Jepang atau Cina tidak pernah repot atau cemas dengan kurs mata uangnya, seperti yang dialami Indonesia.

Jepang atau Cina justru lebih konsentrasi mengurus pertumbuhan dan distribusi sumber daya ekonominya agar makin maksimal memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.

Jepang dan Cina lebih patri mengurus ekonomi noumena, ketimbang Indonesia yang hanya sibuk dengan ekonomi fenomena, ekonomi simptomatik yang remah-remah.

Reaktif dan Sampiran

Rakyat patut miris serta jengah manakala memahami kebijakan ekonomi atau program ekonomi pemerintah, atau gagasan ekonomi para ekonom Indonesia.

Kemirisan dan kejengahan tersebut terbit manakala menyadari betapa ekonomi Indonesia telah gagal diurus secara baik dan sistematik.

Ekonomi Indonesia telah dan senantiasa diurus dan ditata secara sporadis, instan, reaktif, dan sampiran.

Dengan begitu, menjadi niscaya kalau ekonomi Indonesia dewasa ini rapuh dan rentan seperti buih di lautan. Ekonomi Indonesia telah gagal mewujud sebagai ekonomi noumenal sebagaimana maksud dan tujuan Pancasila dan UUD 1945.

Program ekonomi pemerintah dan pemikiran ekonomi para ekonom memang telah menggiring ekonomi Indonesia terperangkap dalam ekonomi sampiran, tanpa kerangka ideologi dan perencanaan berkelanjutan.

Sehingga, ekonomi Indonesia setiap saat berpotensi remuk dan remah, dalam sentakan gejolak ekonomi dunia. Ekonomi Indonesia terkurung dalam perangkap ekonomi sampiran oleh karena memang pemerintah tidak (belum?) pernah serius menggali gagasan ekonomi noumenal-konstitusional yang ada dalam Pancasila dan UUD 1945.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help