BPD Rambah Pasar Teknologi Financial

Bank Pembangunan Daerah Bank Sumsel Babel (BPD) akan mulai merambah pasar kredit online dengan menggandeng perusahaan teknologi finansial tahun depan.

BPD Rambah Pasar Teknologi Financial
SRIPOKU.COM/MG3
Layanan Perbankan di Kantor Pusat Bank Sumsel Babel Jakabaring. 

 Laporan Wartawan Sripoku.com, Jati Purwanti

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Bank Pembangunan Daerah Bank Sumsel Babel (BPD) akan mulai merambah pasar kredit online dengan menggandeng perusahaan teknologi finansial tahun depan.

Hal tersebut sesuai dengan arahan pemerintah sejak tahun lalu agar perbankan daerah mulai mengambil peluang melalui perkembangan teknologi digital di sektor perbankan.

"Zaman semakin berkembang sebagai perbankan, BSB akan masuk ke sana sebab kalau tidak kita akan ketinggalan dan memang kami akan fokuskan ke wilayah tersebut," ujar Sekretaris Perusahaan BSB Faisol Sinin, Rabu (10/10/2018).

Namun menurutnya, sebagai perusahaan  perbankan pihaknya tidak akan sepenuhnya beralih ke sektor teknologi finansial karena tidak semua masyarakat dapat menikmati fasilitas kredit online.

Ceruk pasar kredit konvensional masih sangat potensial untuk beberapa wilayah  di daerah lain di Sumsel dan Babel.

"Sebenarnya penyaluran kredit via teknologi finansial (tekfin) itu sasarannya untuk nasabah di kota-kota besar saja sementara untuk di daerah-daerah kami akan memaksimalkan kredit konvensional," katanya.

Sementara Pengamat Ekonomi Yan Sulistyo mengatakan rencana tersebut  memang sudah menjadi keharusan bagi bank untuk bisa compete bukan hanya sesama bank tetapi juga dengan perusahaan teknologi finansial.

"Akan tetapi permasalahan yg mendasar bagi bank adalah tentang masalah administrasi yg menyebabkan enggannya nasabah mengajukan pinjaman ke bank. Juga  ditambah lagi dengan ketentuan dari BI dan OJK tentang persyaratan bank menyalurkan pinjaman ke nasabah dgn cara yg mudah seperti tekfin," ungkapnya.

Dilanjutkannya, bank manapun selain perbankan daerah jika ingin masuk ke persaingan kredit online hal pertama yang harus  dibenahi dulu yakni menyangkut banking administration infrastucture.

Jika perbankan telah memiliki teknologinya akan tetapi  infrastruktur dan Sumber Daya Manusianya masih bekerja secara konvensional maka upaya migrasi tidak akan optimal.

"Sudah banyak produk dan jasa perbankan lainnya yang cuma sebatas etalase saja alias pajangan akan tetapi tidak maksimal dalam memberikan nilai tambahnya kepada nasabah, nilai tambahnya bisa berupa kemudahan administrasi ( syarat ringan)," terangnya.

Dia menjelaskan peningkatan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) bisa saja terjadi apabila perbankan tidak menerapkan peraturan yang ketat mengenai saat proses pengajuan kredit.

"Syaratnya bisa saja memakai ketentuan perbankan selama ini cuma bagaimana caranya dimodifikasi administrasinya Selain itu untuk meminimalisir angka NPL tentu ada batasan maksimal yang bisa dilakukan oleh perbankan." jelasnya. (mg3)

Penulis: Jati Purwanti
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved