Berita Palembang

Berita Palembang : Harga Pertamax Naik, Wong Kito Beralih ke Premium & Pertalite

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar membuat Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dijual oleh Pertamina jenis Pertamax

Berita Palembang : Harga Pertamax Naik, Wong Kito Beralih ke Premium & Pertalite
SRIPOKU.COM/RANGGA ERFIZAL
Antrian masyarakat mengisi bahan bakar, di SPBU Celentang Palembang, Kamis (11/10). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Rangga Erfizal

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar membuat Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dijual oleh Pertamina jenis Pertamax, dan Dex di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) naik per 10 Oktober lalu.

Ragam pendapat masyarakat muncul ketika harga bahan bakar tersebut naik. Pasalnya, minyak merupakan salah satu kebutuhan masyarakat saat ini.

Akibat kenaikan tersebut ramai masyarakat memilih antri untuk beralih mengisi bahan bakar jenis Premium dan Pertalite.

Baca: Khabib Nurmagomedov Ngamuk, Presiden Vladimir Putin:Siapa pun Misa Melompat, Ini 6 Faktanya

Dari pantauan Sripo di SPBU Celentang Palembang terjadi antrian mobil memanjang hingga mengakibatkan kemacetan.

Antrian bahkan mengular hingga ke luar SPBU sepanjang satu kilometer. Selain itu antrian terlihat ramai hanya di antrian jenis Pertalite dan Premium, sedangkan untuk Pertamax sepi dari pembeli.

Salah satu warga Junaidi (40) mengaku kaget dengan kenaikan harga Pertamax yang di rasa mendadak tidak melalui mekanisme pemberitahuan seperti biasanya. 

Baca: Jeratan Ekonomi Sampiran

"Kalau biasanya kan sehari sebelum kenaikan sudah diumumin. Ini kayaknya nggak ada omongan, naik mendadak. Jadinya saya lebih pilih stop dulu Pertamax, dan beralih ke jenis lain seperti pertalite," ujar Junaidi saat ditemui Sripo di SPBU Celentang Palembang, Kamis (11/10).

Lanjutnya, keputusan menurunkan standart bahan bakar untuk kendaraanya, merupakan jalan tengah dari kenaikan harga dollar yang berimbas ke BBM dan kebutuhan lainnya.

"Jaga-jaga, biasanya kalau dollar sudah naik, BBM pasti naik, dan ujung-ujungnya bahan pokok bakal naik juga," ungkapnya.

Baca: Klasemen Sementara Liga 1 2018, dan Aksi Peduli Ferry Rotinsulu Lelang Jersey untuk Palu & Donggala

Selain itu, Armaidi (33) salah satu warga yang mengantri isi bensin mengatakan, dirinya juga sengaja menurunkan kualitas bahan bakar hal tersebut akibat harga Pertamax yang sudah diluar batas kemampuannya.

"Untuk isi pertamax berat, Rp 150 ribu saja hanya dapat sedikit. Kalau kemarin-kemarin masih ditahanin pake Pertamax kadang juga Pertalite. Tapi untuk sekarang saya pilih premium saja, karena jauh harganya," ungkap pengemudi taksi online tersebut.

Baca: KOPER PALU SMK PP Negeri Sembawa Juara Lomba Teknologi Tepat Guna

Kenaikan Pertamax di Sumsel sendiri mengikuti harga pusat yang dikeluarkan Pertamina mencapai Rp 900 per liter, dari harga sebelumnya per 17 Juli 2018 Rp 9.700 menjadi Rp10.600. Kenaikan juga terjadi pada harga Pertamax Turbo dari kenaikan sebelumnya 17 Juli 2018 Rp10,900 per liter saat ini menjadi Rp12,450 per liter atau naik Rp1.550 per liter.

Pjs Region Manager Communication and CSR Sumbagsel PT Pertamina, Taufikurrachman mengatakan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar Non PSO merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik di mana saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus US$80 per barel.

Baca: Berita Palembang: BMKG Sebut Sejumlah Wilayah di Sumsel Berpotensi Terjadi Gempa Jika. . .

"Harga BBM non subsidi ini menyesuaikan harga pasar termasuk dollar. Karena ada nya pengaruh kurs Dollar yang sudah mencapai US $ 1 = Rp 15.200. kalau saatnya turun yang pasti turun lagi," ujarnya.

Penulis: Rangga Erfizal
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help