Pakai Metode Ini Jika Ingin Mendeteksi Kebohongan?

Hampir semua orang sepanjang sejarah, kalau tidak mau mengatakan seluruh umat manusia, pernah berbohong

Pakai Metode Ini Jika Ingin Mendeteksi Kebohongan?
https://edukasi.kompas.com/
Ilustrasi(Shutterstock 

SRIPOKU.COM - Lini masa media sosial minggu lalu ramai membicarakan kebohongan. Di antaranya, kebohongan Ratna Sarumpaet yang telah diakui sendiri oleh yang bersangkutan. Atau tagline “kebohongan 4 tahun” yang diviralkan untuk menyaingi viral kebohongan penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Hampir semua orang sepanjang sejarah, kalau tidak mau mengatakan seluruh umat manusia, pernah berbohong. Bahkan, Nabi Adam pun menurut kitab suci pernah dibohongi. Tidak hanya manusia, binatang juga bisa berbohong dan dibohongi.

Pada saat musim kawin, burung layang-layang (Hirondo Rustica) jantan akan berseru-seru seakan-akan ada musuh datang bila burung betina menjauh dari sarang. “Tipuan” ini akan membuat burung betina kembali ke sarang. Burung jantan khawatir pasangannya direbut pejantan lain.

Intuisi akan kebohongan
Saya sendiri sekilas melihat kejanggalan ketika melihat video beredar ketika Ratna Sarumpaet digandeng oleh Hanum Rais. Ratna Sarumpaet yang biasanya garang dan berani di depan kamera, terlihat diam saja, gerak-geriknya tidak percaya diri.

Saya tidak pun tidak menyimpulkan apa-apa namun rupanya itu reaksi dari intuisi saya. Tidak perlu menunggu lama, Ratna Sarumpaet pun mengadakan konferensi pers dan mengatakan bahwa dia sudah berbohong.

Yang saya maksud intuisi (intuition) ini semacam perasaan sekilas. Ketika perasaan kita tidak langsung percaya pada suatu kejadian. Situasi ini hanya berlangsung dalam hitungan detik. Akurasinya semakin tinggi apabila tidak hanya melihat mendengar suara atau melihat video, tapi ada di depan orang yang berbohong. Mengapa? Karena intuisi ini distimulasi oleh gerak-gerik, intonasi suara, raut wajah, atau postur tubuh.

Intuisi digantikan logika
Contoh yang lain, pernah seorang kawan mengatakan bahwa dia tidak masuk kerja karena sakit. Meski hanya melalui telepon, intonasi suaranya membuat saya ragu dalam waktu sepersekian detik. Tapi kemudian dia menceritakan sebab dia sakit, melampirkan surat dokter, dan lain-lain.

Intuisi (intuition, guts) tadi hilang, digantikan oleh logika (deliberative processing) bahwa kawan saya tadi pasti sakit. Logis. Sakit (sebagai akibat) pasti karena sebab tertentu, plus ada surat dokter. Saya percaya 100%, plus saya doakan pula biar cepat sembuh.

Nyatanya, beberapa hari kemudian dia mengaku kalau dia tidak sakit. Tapi ada jadwal wawancara di perusahaan lain. Logika sudah mengalahkan intuisi saya.

Intuisi yang netral
Tentu saya juga perlu berhati-hati. Tidak semua intuisi bisa saya percayai. Apalagi kalau sebelumnya saya sudah tidak suka sama seseorang. Atau saya sudah memberikan label pada seseorang sebagai pembohong.

Halaman
12
Editor: Adrian Yunus
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved