Mengembalikan Nilai-Nilai Luhur Pancasila Melalui Pendidikan Karakter Di Sekolah

Sejak 01 Oktober 1965 bangsa Indonesia, melalui para pemerintah menjadikan tanggal tersebut sebagaiperingatan hari Kesaktian Pancasila.

Mengembalikan Nilai-Nilai Luhur Pancasila Melalui Pendidikan Karakter Di Sekolah
ist
Rini Anggraini, MPd. 

Mengembalikan Nilai-Nilai Luhur Pancasila
Melalui Pendidikan Karakter Di Sekolah
Oleh: Rini Anggraini, MPd. Guru SMP Negeri 12 Palembang
Sejak 01 Oktober 1965 bangsa Indonesia, melalui para pemerintah pada masa itu menjadikan tanggal tersebut Sebagai momentum peringatan hari Kesaktian Pancasila.

Dikatakan "Sakti" karena pada masa itu Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara kita selalu terselamatkan dari berbagai ujian yang mencoba merongrong nilai-nilai dasar yang termaktub dalam Pancasila.

Pancasila sudah lahir jauh sebelum Presiden Soekarno dan para pejuang bangsa yang tergabung dalam BPUPKI merumuskannya dan mengesahkannya sebagai hari Pancasila pada tanggal 01 Juni 1945.

Ia memang sudah ada sejak zaman dahulu, menjadi jati diri, karakter, nilai-nilai yang menjiwai kepribadian nenek moyang kita pada masa itu.

Pada masa lalu, nenek moyang kita sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya mereka kental dengan keramah-tamahan, gotong-royong, saling hormat menghormati, dan bermusyawarah walaupun mereka terdiri dari beberapa ras, budaya, serta tradisi masing-masing yang dipastikan sudah berbeda-beda.

garuda
garuda ()

Pada zaman kerajaan Majapahit, seluruh kepulauan di Indonesia berada di bawah kekuasaan Majapahit. Hal ini memang tidak lepas dari kegigihan Gajah Mada.

Pada saat diangkat sebagai Mahapatih, Gajah Mada bersumpah bahwa ia tidak akan beristirahat (amukti palapa) jika belum dapat menyatukan seluruh Nusantara.

Sumpah itu kemudian dikenal dengan Sumpah Amukti Palapa.

Kemudian pada abad ke-14, Mpu Tantular seorang pujangga sastra Jawa pada zaman kerajaan Majapahit juga, pernah menulis sebuah buku yang bernama  sutasoma yang didalamnya tertuang azas-azas persatuan dalam keberagaman yang kita kenal dengan "Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua."

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved