Sepakbola Indonesia

Kisruh Suporter Sepakbola Indonesia Akar Masalah dan Solusi

Duka kembali menyelimuti persebakbolaan tanah air pasca tewasnya Haringga Sirila, suporter Persija Jakarta yang dikeroyok

Kisruh Suporter Sepakbola Indonesia Akar Masalah dan Solusi
ist
Dr. Ahmad Yani, SH. MH. 

Kisruh Suporter Sepakbola Indonesia
Akar Masalah dan Solusi
Oleh : Dr. Ahmad Yani, SH. MH.

Pemerhati Sosial Politik, Praktisi Hukum (Advokat), Founder Pusat Pengkajian Peradaban Bangsa (P3B) & Anggota DPR RI Periode 2009-2014

Duka kembali menyelimuti persebakbolaan tanah air pasca tewasnya Haringga Sirila, suporter Persija Jakarta yang tewas dikeroyok di area parkiran stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Minggu (23/09/2018).

Tentu, kabar duka ini merupakan kabar duka yang tidak saja diperuntuhkan bagi Persija Jakarta, namun juga menjadi kabar duka bagi persepakbolaan nasional --hingga saat ini terus mengulang catatan dan persitiwa kelam seperti ini dari waktu ke waktu.

Jejak Historis

Lagi dan lagi, fanatisme semu yang menimbulkan arogansi kelompok yang berujung kekerasan bahkan menyebabkan hilangnya nyawa seseorang kembali terjadi di atmosfer persepakbolaan nasional.

Jika, kita runtut (sejarah) peristiwa ini terulang dan terus berulang sejak tahun 1955 hingga periodesasi saat ini.

Peristiwa kisruh antar suporter sepakbola nampaknya seakan terjadi secara alamiah dan terkesan dibiarkan menjadi sebuah realitas serta resiko dari penyelenggaraan sebuah pertandingan (kejuaraan) liga profesional.

Peristiwa serupa memang tidak hanya terjadi dalam lingkup domestik (naisonal), namun dalam lingkup internasional pun, kisruh suporter sepakbola yang berujung anarkis  bahkan merenggut korban jiwa tetap tidak dapat dihindarkan dan menjadi langganan dari setiap penyelenggaraan sebuah pertandingan ataupun kejuaraan sepakbola.

Bahkan, di negara yang sepakbolanya sudah mapan (maju), seperti di Inggris, Spanyol, Turki, Jerman, Italia dan negara-negara Eropa lainnya, kebrutalan dan keributan suporter tetap saja terjadi dan tidak dapat dihindarkan.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved