Tatanan Sosial Muslim Indonesia

Pancasila dan Tatanan Sosial Muslim Indonesia

Ada dua pemikiran mendasar yang sering menjadi pembicaraan ketika Pancasila dan Islam dikaitkan

Pancasila dan Tatanan Sosial Muslim Indonesia
ist
Dr. Mohammad Syawaludin

Pancasila dan Tatanan Sosial Muslim Indonesia
Dr. Mohammad Syawaludin
Dosen UIN Raden Fatah Palembang
Ada dua pemikiran mendasar yang sering menjadi pembicaraan ketika Pancasila dan Islam dikaitkan; Pertama, sejauh mana Islam menggariskan konsep secara clear-cut tentang negara, politik, dan sistem pemerintahan. Kedua, penelusuran dilakukan untuk mengidentifikasi sebuah idealitas dari perspektif Islam terhadap proses penyelenggaraan negara dan tatanan sosial bermasyarakat.

Tujuan yang kedua ini agaknya lebih beraksentuasi pada ranah praksis-substansial, yakni mencoba menjawab pertanyaan "bagaimana isi negara menurut Islam."

Pendekatan ini didasarkan bahwa Islam menawarkan prinsip-prinsip dasar berupa etik-moral tentang kenegaraan, karena masyarakat mayoritas Muslim dapat diterima sejauh tidak menyimpang dari prinsip-prinsip pokok ajaran Islam itu sendiri.

Namun membaca sejumlah referensi kesejarahan, Persoalannya adalah data historis tentang relasi Islam dan negara sering menampilkan fenomena kegamangan, kesenjangan sekaligus pertentangan yang sulit dipertemukan.

Apalagi bila sejenak melihat di berbagai belahan dunia saat ini khususnya negara-negara Islam terjadi perperangan sesama mereka berkepanjangan.

Lebih jauh, dengan berbagai tafsir khas masing-masing kalangan Muslim, penekanan pada signifikansi tatanan sosial-politik ini tampaknya justru semakin kian besar, sehingga muncul kesan di sebagian kalangan Islamis bahwa obsesi politik pan-Islamisme merupakan tujuan dan jantung dari spiritualitas Islam serta solusi bagi segala masalah umat.

Hal ini mungkin sekali tidak lepas dari romantisme akan kejayaan Islam di masa lalu serta luka sejarah atas bubarnya kekhalifahan terakhir, Dinasti Turki Utsmani, super power Negara Muslim yang akhirnya digelari the sick man of Europe di penghujung keruntuhannya.

Tidak berlebihan bila episteman mengatakan mengapa politik Islam seolah gagal membangkitkan kembali peradaban Islam?

Adakah kemungkinan umat Islam saat ini membangkitkan kembali peradaban Islam di dunia modern.

Persoalan lain yang tak kurang pentingnya terkait hubungan Islam dan politik ini adalah bahwa baik Islam politik maupun aliran islamisme, otokrasi, dan demokrasi sama-sama mengistimewakan bentuk-bentuk kesalehan dan ketaatan lahiriah sebagai suatu konfirmasi adanya landasan Islami dalam masyarakat mereka.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved