Mengungkap Mitos Larangan Menikah di Bulan Suro, Nasib Buruk hingga Cerita Batara Kala!

Alasan pantangan menggelar hajatan pernikahan di bulan Suro adalah dikhawatirkan pasangan yang menikah akan mendapat nasib buruk.

Mengungkap Mitos Larangan Menikah di Bulan Suro, Nasib Buruk hingga Cerita Batara Kala!
ISTIMEWA
Ilustrasi 

"Bukan untuk membuat hajat yang berdampak pada pengeluaran keuangan terlalu banyak," jelas Han Gagas.

Artinya, di bulan spiritual ini sebaiknya masyarakat memanfaatkannya untuk lebih memaknai hidup dan tidak mengutamakan keduniawian.

Seperti beribadah, merehatkan diri dari hingar-bingar dunia, atau merenungkan kehidupan agar berjalan lebih baik.

Sementara itu, menggelar pernikahan atau jenis hajatan lainnya hanya akan mendorong seseorang mengeluarkan biaya yang banyak.

Hal ini tentu membuat bulan spiritual tidak dimanfaatkan dengan maksimal karena kesempatan untuk beribadah dan renungan berkurang atau malah hilang sama sekali.

Menurut Han Gagas, selain dari segi spiritual, pantangan menikah di bulan Suro bisa pula dikaitkan dari segi sosial dan ekonomi.

"Orang Jawa perlu 'let' (jeda), termasuk kondisi keuangan."

"Jika terlalu banyak hajatan yang kudu nyumbang (memberi sumbangan), nanti kasihan bisa buat banyak yang marah atau terlalu ngoyo kerja buat nyumbang, itu bisa buat aura negatif."

"Ini versi yang modern dan condong ke manajemen uang," tambahnya.

Masayarakat Jawa memang bisa menggelar pesta pernikahan sepanjang tahun, kecuali di bulan Suro.

Halaman
1234
Editor: Candra Okta Della
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help