Berita Palembang

Neraca Perdagangan Sumsel Tidak Stabil, Impor Lebih Tinggi Dibandingkan Ekspor

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui rilis resminya mencatatkan di provinsi Sumsel terjadi peningkatan impor

Neraca Perdagangan Sumsel Tidak Stabil, Impor Lebih Tinggi Dibandingkan Ekspor
Dok. SRIPOKU.COM/RANGGA ERFIZAL
Gerbong LRT saat diturunkan dari kapal di Pelabuhan Boom baru, Rabu (11/4). (Rangga Erfizal) 

Laporan wartawan Sripoku.com, Jati Purwanti

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Badan Pusat Statistik (BPS) melalui rilis resminya mencatatkan di provinsi Sumsel terjadi peningkatan impor dibanding ekspor pada pertengahan 2018.

Peningkatan tersebut dapat dilihat pada data nilai impor Sumsel hingga Juli 2018 yang mencapai  US$ 54,72 juta atau naik sekitar 68,12 dari bulan sebelumnya.

Kepala BPS Sumsel, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan peningkatan pertumbuhan impor yang lebih tinggi dari ekspor seharusnya menjadi fokus perhatian pemerintah ke depannya.

Baca: 19 September Pendaftaran CPNS Dibuka, Pemkab PALI Buka 337 Formasi

"Pertumbuhan impor naik setidaknya harusnya sebanding dengan aktivitas ekspornya. Jika stabil maka necara perdagangan Sumsel akan lebih stabil," ujarnya kepada Sripo, Senin (10/09/2018).

Menurutnya, jika dicermati Provinsi Sumsel termasuk salah satu provinsi yang memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah dan bila dikembangkan dengan baik bisa mendongkrak peningkatan ekspor.

Baca: Jangan Lakukan 3 Hal ini Jika Tak Ingin Hubungan Asmara Anda Kandas

Perdagangan komoditas ke luar negeri atau ekspor Sumsel per Juli lalu pun hanya mampu meraih angka kenaikan 22,56 persen di bulan yang sama.

Bila dikonversi ke dolar AS nilai ekspor Provinsi Sumsel sampai bulan tersebut sebesar US$ 417,90 juta yang terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 36,49 juta dan US$ 381,41 juta merupakan hasil ekspor komoditi nonmigas.

Baca: Jangan Lakukan 3 Hal ini Jika Tak Ingin Hubungan Asmara Anda Kandas

"Kebiasaan masyarakat Indonesia itu kalau ekspor hanya produk mentah. Kelapa sawit hanya CPO-nya saja. Padahal jika sudah sampai menjadi minyak goreng nilainya akan lebih tinggi," terangnya.

Sementara dari sisi impor, komoditas  nonmigas tercatat lebih mendominasi dibanding impor komoditas migas. Untuk impor migas nilainya US$ 2,62 juta sedangkan nonmigas US$ 52,10 juta.

Halaman
12
Penulis: Jati Purwanti
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved