Beragama Tak Sekedar 'Copy Paste'

Al Qur'an memakai dua istilah dalam hal ini, yakni "Jangan mengatakan sesuatu jika tak mengetahuinya"

Beragama Tak Sekedar 'Copy Paste'
ist
H. John Supriyanto, MA 

Hakikat beragama adalah mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya dan semuanya telah tertuang dalam Al Qur'an dan kitab-kitab Sunnah.

Tanpa menafikan keberadaan para imam mazhab, pandangan mereka bukanlah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Tidak ada satu dalil-pun yang mewajibkan bersikukuh menganuti suatu paham, apalagi mensetarakannya dengan kemutlakan Al Qur'an dan hadits Nabi SAW.

Untuk itu, seorang muslim harus cerdas, kritis dan memaksimalkan potensi pikir.

Telusuri dan pahami terlebih dahulu darimana sumbernya diambil, lalu teliti setiap alur bagaimana pemahaman itu dihasilkan.

Jika tidak mampu melakukannya sendiri, maka bertanyalah kepada yang diyakini lebih mengerti. Sikap kritis dalam beragama berarti melihat dan mengetahui dari mana dan siapa informasi itu bersumber.

Salah-satu tradisi ajaran dan keilmuan Islam yang membedakannya dari agama yang lain adalah tradisi sanad (sandaran).

Dengan sanad sebuah ajaran atau pemahaman dapat dilacak dan diketahui sumbernya sampai kepada Nabi SAW. Saking pentingnya tradisi sanad, Ibnu Mubarak  mengungkapkan : "Al-Isnad min ad-din, lau la al-isnad la qala man sya'a ma sya'a".

Maksudnya, sanad adalah bagian penting dalam beragama.

Jika tanpa sanad, maka setiap orang bisa berkata sesukanya tentang agama.

Di sinilah urgensi bertabayyun dalam beragama menjadi urgen.

Mengingat ajaran agama yang dijalankan haruslah berasal dari sumber utamanya, Al Qur'an dan sunnah kenabian.

Lebih dari itu, bahwa pemahaman beragama tidak hanya bersumber Al-Quran dan sunnah, tapi juga ijtihad dengan segala metodenya.

Di luar itu juga masih ada sumber-sumber hukum yang mukhtalaf, yang hanya berlaku pada kalangan terbatas, seperti istihsan bagi Madzhab Hanafi atau mashlahah mursalah buat Madzhab Maliki.

Pola seperti ini memungkinkan para pengikut madzhab memberi hukum haram pada "tuak", misalnya, oleh sebab alasan memabukkan.

Alasan tersebut dikenal sebagai 'illat dan pola berhukum yang demikian disebut dengan qiyas.
Dalam kerangka bermadzhab, dan atau madzhab empat, segala persoalan yang tak ditemukan presedennya di zaman Nabi pun tidak serta merta hanya dihukumi dengan hadits "kullu bid'atin dhalalah" atau "setiap yang baru itu adalah sesat".

Copy paste dan menerima begitu saja informasi yang datang tidak selamanya bijak. Terlebih dalam konteks zaman now.

Ketika mendapat atau membaca postingan di medsos, jangan langsung diterima
tanpa reserve.

Teliti, pahami dan telusuri dulu sumbernya atau dalam bahasa Al Qur'an bertabayyun.

Bisa jadi itu sebuah kebohongan bahkan mungkin penyesatan, karena kini medsos telah bergeser sebagian fungsinya dari media informasi dan komunikasi menjadi alat provokasi.

Dengan demikian, berarti Anda telah meningkatkan kualitas dari posisi muqallid yang copas ke maqam muttabi' yang kritis, tingkatan minimal yang harus dicapai seorang muslim.

Meski demikian, ada satu kondisi seorang beragama harus copy paste, lalu menjadi muqallid sejati.
Kondisi tersebut adalah berkaitan dengan keimanan yang terkadang nalar tidak bisa masuk di dalamnya.

Sebut saja misalnya kasus Abu Bakar ra yang langsung berkata "iya" dan : percaya" begitu saja ketika Nabi SAW menceritakan perjalanan Isra' Mi'raj.

Bayangkan, bagaimana beliau tanpa ragu sedikitpun meyakini terjadinya proses perjalanan dari Makkah ke Palestina dan terus menuju Sidrat al-Muntaha yang hanya dilakukan dalam waktu kurang dari satu malam.

Orang yang hanya mengandalkan nalar logis tentu akan kesulitan mempercayai informasi musykil semacam itu.

Dimas Kanjeng yang mengaku mampu menggandakan duit dalam sekejap itu saja dianggap "gila".

Apalagi ini traveling berjuta-juta kilometer hanya dalam semalam.

Tak ayal, kaum kuffar Quraisy pun menertawakan Nabi SAW dan hanya segelintir orang saja yang percaya.

Begitu pula terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan ketentuan syari'at yang sudah mapan dan qath'i, seperti ketentuan jumlah raka'at shalat, kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, berbagai rangkaian pelaksanaan ibadah haji, dan lain sebagainya.

Demikian juga dengan berbagai informasi wahyu tentang alam kematian dan kehidupan akhirat seperti surga, neraka, mahsyar, hisab, shirat dan lain-lain.

Terhadap hal-hal tersebut tentu iman dan copy paste harus dikedepankan, karena nalar dan akal manusia akan lumpuh sebelum mampu menjangkaunya.

Intinya, fungsikan sikap copy paste beragama pada posisi yang benar.

Kapan dan di mana harus memposisikan diri sebagai muqallid atau muttabi' dan tidak berlebihan bila dalam kondisi tertentu menjadi "mujtahid" dalam arti terbatas. Wallahu a'lam.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved