Berita Musi Banyuasin

Tembus Rp 9.000, Petani Karet di Muba Harapkan Harga Karet Stabil

Harga karet yang tak menentu membuat petani karet menjerit, namun memasuki akhir bulan Agustus harga getah karet di wilayah

Tembus Rp 9.000, Petani Karet di Muba Harapkan Harga Karet Stabil
SRIPOKU.COM/FAJERI RAMADHONI
Salah satu petani karet ketika menyadap pohon karet di Kecamatan Keluang Salah satu petani karet ketika menyadap pohon karet di Kecamatan Keluang. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Fajeri Ramadhoni

SRIPOKU.COM, SEKAYU-- Harga karet yang tak menentu membuat petani karet menjerit, namun memasuki akhir Agustus harga getah karet di wilayah Kecamatan Keluang Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mulai membaik.

Naiknya harga karet tersebut karena permintaan getah karet yang cukup tinggi pada pengepul.

Berdasarkan informasi yang dihimpun memasuki awal Agustus lalu harga karet  menyentuh sekitar Rp8.500 per kilogram, kemudian pada pertengahan bulan harga naik menjadi Rp8.700, dan lalu pada akhir bulan ini, harga meningkat menjadi Rp9.000 tiap kilogram. 

Peningkatan harga tersebut tentunya disambut baik oleh petani, karena saat musim kemarau seperti saat ini produksi getah menurun.

Produksi getah karet mengalami penurunan menjelang musim kemarau.
Produksi getah karet mengalami penurunan menjelang musim kemarau. (Dok pribadi)

Baca: Bisa Pakai HP, Langsung dari Indosiar: Live Streaming Babak Final Bulutangkis Asian Games 2018

Baca: Jadi Sorotan, Fotografer Ini Banjir DM Diminta Foto Jonatan Christie Saat Buka Baju Santai Netijen

Seperti yang di ungkapan Kamto (55), dirinya mengaku senang mendengar kabar harga menembus angka Rp9.000, dirinya berharap harga  tidak lagi mengalami penurunan. 

"Saya baru jual lima keping tanggal 15 yang lalu, harganya masih Rp 8.700 rupiah, tapi sekarang saya dengar sudah sampai Rp 9.000. Saat ini belum saya jual kembali karena baru ada satu keping, di kumpulin dulu nanti semoga harganya tidak turun lagi syukur-syukur bisa naik lagi,” kata Kamto

Lanjutnya, bahwa saat produksi karet menurun karena musim kemarau, sudah selayaknya harga naik, karena jika tidak penghasilan petani akan menurun drastis. 

“Kondisinya memang saat ini lagi trek, kalau harga murah penghasilan kami jelas semakin menipis,”ujarnya. 

Sementara, Budiman salah satu pedagang dan pengepul mengaku bahwa akhir-akhir ini dirinya memang agak  kesulitan mendapatkan karet karena pengaruh musim kemarau, beberapa petani bahkan tidak menyadap pohon karet karena getah yang dihasilkan sedikit.

Maka dari itu pabrik menaikkan harga. "Akhir-akhir ini memang sulit dapat getah,  jadi harganya naik, untuk   tingkat pedagang kami harus berkompetisi soal harga, pihak pabrik bahkan ada yang langsung terjun ke desa-desa. Bahkan ada yang langsung menemui petani, ada juga yang datang kepada kami untuk mengajak bekerjasama,”ujarnya. (*)

Penulis: Fajeri Ramadhoni
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved