Berita Lahat

Dapat Predikat Adipura, Pengolahan Sampah di Lahat Jadi Contoh Kabupaten Lainnya

Sejalan adanya Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017 dan Peraturan Bupati Lahat, Kabupaten Lahat kini menjadi kabupaten prioritas

Dapat Predikat Adipura, Pengolahan Sampah di Lahat Jadi Contoh Kabupaten Lainnya
Dok.SRIPOKU.COM/EHDI AMIN
Petugas kebersihan saat mengambil sampah TPS untuk dibuang ke TPA. 

Laporan wartawan Sripoku.com Ehdi Amin

SRIPOKU. COM, LAHAT -- Sejalan adanya Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017 dan Peraturan Bupati Lahat, Kabupaten Lahat kini menjadi kabupaten prioritas dalam hal penanganan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lahat, Misri, melalui Kabid LB3 Lahat, Budi Utama mengatakan, Lahat kini jadi contoh bagi sejumlah kabupaten atau kota lain di Sumatera Selatan untuk penanganan sampah.

Baca: H Syahril Hanafiah Pamit Digantikan H Edison Jaya Sebagai Pelaksana Harian Bupati Empatlawang

Hal tersebut dijelaskanya, tidak lepas adanya Perbup. Pasalnya, tanpa Perbup tahun ini kabupaten atau kota tidak bisa mendapatkan Piala Adipura.

"Ini memang kebijakan nasional, tapi baru kita yang sudah konsultasi tahap akhir ke Kementrian Lingkungan Hidup (KLH red). Dan ini tentu jadi kebanggan bagi kita," ujar Budi, Minggu (26/8).

Menambahkan, Kabid Pengelolaan Sampah KLH, Dr Ir Haruki Agustina, tak heran kalau Kabupaten/Kota tetangga seperti, Pagaralam, Empatlawang, bahkan Lubuk Linggau belajar ke Lahat, untuk pengelolaan sampah.

Baca: Oppo F9 Hadir di Palembang, Isi Ulang Baterai Cuma 5 Menit Tahan 2 Jam

"Mereka belajar ke kita, dalam segi membuat peraturannya. Formatnya dari segi strategi kebijakan dalam penanganan sampah. Mulai dari rumah tangga, hingga ke TPA," sampainya.

Sementara, Kasi Peningkatan Kapasitas, Khairul menerangkan, salah satu formatnya berupa target pengurangan dan penanganan sampah rumah tangga, hingga lima tahun mendatang.

Baca: Kebakaran Panca Usaha SU I Palembang, 14 Rumah Hangus Terbakar. Berikut Daftar Korbannya

Seperti untuk tahun 2018, pihaknya menargetkan akan berkurang 18 persen. Sedangkan tahun 2025 nanti akan berkurang jadi 30 persen.

"Ini tidak cukup dengan sosialisasi. Strategi kita, untuk penanganan, melakukan pengangkutan sampai ke pemprosesan akhir di TPA. Untuk pengurangan sampah, menggalakkan Bank Sampah, dan dijadikan pupuk," terang Khairul.

Penulis: Ehdi Amin
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help