Home »

News

» Sains

Mungkinkah Cahaya Lampu LED Bisa Membuat Kita Sakit?

Selama sepuluh tahun belakangan, sebagian besar wilayah di Eropa dan AS telah mengubah cara mereka menerangi jalan-jalan kota dan kota.

Mungkinkah Cahaya Lampu LED Bisa Membuat Kita Sakit?
SRIPOKU.COM/WAHYU KURNIAWAN
Ilustasi - Jembatan Layang Tanjung Api-api terlihat cantik ketika malam hari yamg dihiasi lampu LED. 

SRIPOKU.COM - Selama sepuluh tahun belakangan, sebagian besar wilayah di Eropa dan AS telah mengubah cara mereka menerangi jalan-jalan kota dan kota.

Dewan dan pemerintah lokal dari Paris hingga Brooklyn telah mengganti bola lampu sodium berenergi tinggi (yang berwarna kuning) dengan lampu LED hemat energi (dengan dioda pemancar cahaya biru).

Berita Lainnya:
Lampu LED Stadion GSJ Capai 3.000 Lux, tak Hanya Pertandingan Asian Games 2018, Tapi Piala Dunia

Jika dibandingkan, cahaya dari lampu LED dapat terasa lebih keras jika dibandingkan yang sodium kuning yang hangat.

Selain dari lampu jalan tersebut, sebagian besar orang lebih sering terpapar cahaya biru LED dari smartphone, komputer, TV, dan lampu rumah.

Awal tahun ini, World Journal of Biological Psychiatry menerbitkan sebuah studi yang memperingatkan efek potensial dari pencahayaan LED terhadap penyakit mental.

Studi yang dilakukan oleh sekelompok psikiater terkemuka itu menimbulkan kekhawatiran tentang pengaruh cahaya biru pada tidur, gejala sirkadian lain, penggunaan aplikasi dan perangkat kesehatan digital, dan sensitivitas remaja yang lebih tinggi terhadap cahaya biru.

"Kekhawatiran saya tentang pencahayaan LED diikuti dari kekhawatiran yang lebih besar dan lebih awal tentang hubungan antara paparan cahaya dan terjadinya gejala mania dan campuran dalam gangguan bipolar," kata John Gottlieb, salah satu penulis makalah itu.

"Saya sudah melihat dengan jelas bahwa paparan cahaya tambahan - dalam bentuk terapi cahaya terang - sangat membantu pasien dengan depresi. Yang lebih lamban saya sadari adalah bahwa paparan cahaya yang berlebihan dan kurang tepat dapat memiliki efek buruk pada keadaan mania dan siklus tidur-bangun," sambung Asisten Klinis Profesor Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Feinberg School of Medicine, Chicago itu.

Dengan kata lain, studi ini memiliki implikasi untuk pengobatan penyakit mental.

Halaman
12
Editor: Bejoroy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help