Kisah Presiden Soekarno, Kurang Tidur dan Kena Malaria saat Menulis Teks Proklamasi Indonesia

Soekarno sempat menemui penguasa Jepang di Indonesia (Jakarta), Laksamana Maeda untuk meminta pendapat.

Kisah Presiden Soekarno, Kurang Tidur dan Kena Malaria saat Menulis Teks Proklamasi Indonesia
IST
Alex Mendur, Frans Mendur, dan Soekarno. 

SRIPOKU.COM -- Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sebelum membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 sempat menemui penguasa Jepang di Indonesia (Jakarta), Laksamana Maeda untuk meminta pendapat.

Tapi pemimpin pasukan Jepang yang sudah tidak memiliki kekuasaan itu, terkait penyerahan Jepang kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, tidak bisa memberikan pendapat dan bantuan apa-apa kepada Presiden Soekarno.

Pasalnya pasukan Jepang di Indonesia mulai tanggal 15 Agustus harus tunduk pada peraturan sekutu dan hanya bertugas secara polisional untuk menegakkan ketertiban sipil di seluruh Indonesia.

Setelah pasukan sekutu tiba di Indonesia untuk melucuti senjata pasukan Jepang, kekuasaan di Indonesia yang untuk sementara secara status quo dipegang Jepang kemudian diserahkan kepada pasukan sekutu.

Baca: Lakukan Penipuan Sarang Burung Walet, Pria di Palembang Ini Divonis 2 Tahun Penjara

Presiden Soekarno.
Presiden Soekarno. (IST/NET)

Tapi yang membuat Bung Karno terkejut, Laksamana Maeda melalui ajudannya, Kolonel Nishimura, melarang keras jika Indonesia akan memproklamirkan kemerdekaan secara mandiri.

Sebab oleh sekutu, pasukan Jepang di Indonesia sudah diperintahkan untuk tidak mengubah keadaan apapun terkait struktur pemerintahan mulai dari pusat hingga tingkat daerah.

Menyadari bahwa Proklamasi Kemerdekaan harus dilakukan secara mandiri dan jika Jepang melarang ternyata harus dilawan, maka sehari sebelum pembacaan teks proklamasi, Bung Karno segera melakukan antisipasi.

Ketika akan menulis teks proklamasi di atas sobekan buku tulis bergaris-garis biru menggunakan pena pinjaman seorang rekannya, Bung Karno sebenarnya dalam kondisi lelah, kurang tidur, dan sedang terserang penyakit malaria.

Dengan suhu tubuh mencapai 40 derajat celsius dan menggigil karena kedinginan, Bung Karno mulai menulis teks Proklamasi Kemerdekaan.

Soekarno.
Soekarno. (IST)

Setelah itu Bung Karno kembali menulis berlusin-lusin surat yang kemudian diberikan kepada para pemimpin organisasi, komandan pasukan PETA, para tokoh pemuda, dan lainnya agar segera mempersiapkan diri untuk mengantisipasi keadaan ketika naskah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Satu malam menjelang 17 Agustus 1945, semua surat disebarkan dan berita dari surat juga disebarkan melalui mulut ke mulut, melalui telepon, dari rumah ke rumah, dan lainnya.

Esok harinya di depan rumah Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, ratusan orang telah berkumpul dengan membawa beragam senjata untuk bersiap menghadapi pasukan Jepang yang diperkirakan akan menghalangi upacara Proklamasi Kemerdekaan.

Sekitar 170 prajurit PETA bersenjata lengkap hasil rampasan dari pasukan Jepang juga telah hadir dan bersiap menghadapi pasukan Jepang dari arah belakang.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tepat pukul 10.00 menggunakan pengeras suara rampasan Jepang, rakyat yang hadir berkat surat-surat yang disebarkan Bung Karno ternyata berjumlah lebih dari 500 orang.

Semua warga yang hadir bahkan sudah bersumpah untuk siap sedia mempertahankan kemerdekaan yang baru dikumandangkan dengan mengorbankan seluruh jiwa raganya.

Soekarno.
Soekarno. ()

(Dilansir dari Intisari yang bersumber dari Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy Adams, Media Pressindo, 2014)

===

Editor: Ahmad Sadam Husen
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved