Berita OKU Timur

Masuk Musim Kemarau, Petani Sawah Tadah Hujan di OKUT Alih Profesi

Petani lahan sawah tadah hujan di Kabupaten OKU Timur pasca pnen kedua pertengahan tahun 2018 tidak bis lagi menggrap lahan sawah.

Masuk Musim Kemarau, Petani Sawah Tadah Hujan di OKUT Alih Profesi
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Hamparan lahan sawah tadah hujan yang tidak bisa lagi garap lahan hingg akhir tahun. 

Laporan wartawan Sripoku.com,  Evan Hendra

SRIPOKU.COM, MARTAPURA-- Petani lahan sawah tadah hujan di Kabupaten OKU Timur pasca pnen kedua pertengahan tahun 2018 tidak bis lagi menggrap lahan sawah.

Hal itu disebabkan karena air yang selama ini menggenangi sawah mulai mengering menyusul musim kemarau yang sudah terjadi sejak beberapa minggu terakhir.

Lain halnya dengan petani sawah irigasi tekhnis yang sudah kembali menggarap lahan usai melakukan pemanenan.

Petani sawah tadah hujan justru mencari pekerjaan serabutan lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga menjelang musim penghujan kembali turun.

Biasanya, para petani akan menyimpan gabah lebih banyak dibandingkan saat panen akhir tahun karena musim kemarau yang tidak bisa diprediksi biasanya akan menimbulkan peceklik sehingga harga beras mengalami kenaikan.

Baca:

Jadwal dan Harga Tiket Lengkap Pertandingan Cabor Sepakbola Wanita Asian Games 2018 di Palembang

Belum Terkenal, 6 Artis ini Dikabarkan Meninggal Dunia, Ada yang Dibunuh hingga Diduga Overdosis

"Musim peceklik biasanya antar bulan September hingga akhir November. Petani mulai menyimpan gabah lebih banyak untuk persiapan hingga musim panen awal tahun 2019 mendatang," ungkap Kusirun (47) petani di wilayah Perjaya, Senin (6/8/2018).

Menurut Kusirun, saat musim kemarau dan lahan mengalami kekeringan petani sawah biasanya mencari pekerjaan sampingan mulai dari menjadi buruh harian hingga mencetak batu bata.

"Untuk menyambung hidup. Bagaimanapun hasil panen pertengahan tahun tidak bisa dijual semua karena harus mempersiapkan untuk kebutuhan hingga awal tahun hingg panen selanjutnya," katanya.

Namun kata dia, ada sebagian petani yang tidak menyimpan gabah untuk persediaan hingga musim panen selanjutnya. Hal itu disebabkan karena beberapa petani yang tidak memiliki modal langsung meminjam dan menjual hasil sawahnya kepada pemodal.

"Banyak petani yang melakukan sistem yarnen (bayar panen) jadi ketika panen hanya sedikit yang disimpan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sehingga jika stok habis terpaksa mereka membeli dari pasar dengan harga yang sangat tinggi," katanya.

Penulis: Evan Hendra
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help