Berita Muaraenim

Kisah Damayanti Saragih, Mandor Perkebunan Sawit Jadi Mualaf Berawal dari Makanan

Dahulu, pada tahun 2003, sebelum pindah keyakinan, ia bekerja sebagai Mandor di salah satu perusahaan perkebunan Kelapa Sawit

Kisah Damayanti Saragih, Mandor Perkebunan Sawit Jadi Mualaf Berawal dari Makanan
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Damayanti Saragih 

Laporan wartawan Sripoku.com, Ardani Zuhri

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Damayanti Saragih alias Damira Raulia (35) warga Desa Muara Lawai, Kecamatan Muaraenim, Kabupaten Muaraenim, mungkin merupakan salah satu Mualaf yang cukup banyak mengalami rintangan, tantangan dan cobaan sejak berpindah keyakinan dari non muslim ke muslim.

Secara singkat, Damayanti menuturkan disela-sela kegiatan pembinaan bagi mualaf bahwa ia pertama kali tertarik masuk Islam, gara-gara makanan.

Dahulu, pada tahun 2003, sebelum pindah keyakinan, ia bekerja sebagai mandor di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Muaraenim.

Sebagai atasan dan masih gadis, iapun hobi memasak salah satunya membuat makanan kue bolu.

Kemudian ia membuat kue bolu, yang rencananya untuk diberikan ke teman-temannya, namun setelah dibuat ternyata teman-temannya yang kebetulan mayoritas Muslim menolak dengan halus untuk memakannya.

Ia pun penasaran, kembali membuat makanan, dan kembali mereka tidak mau memakannya.

Lalu ia mencari tahu penyebab teman-temannya tidak mau makan, ternyata teman-temannya khawatir jika bahan atau alat-alat yang digunakannya untuk memasak juga digunakan bekas memasak babi yang menurut ajaran Islam najis.

Semenjak kejadian itu selalu terpikir, dan setelah melalui pertimbangan dan resiko serta atas kemauan sendiri tanpa paksaan iapun meminta salah seorang yang menjadi bapak angkatnya untuk mengajarkan surat Alfatihah untuk ia hafal.

Awalnya ayah angkatnya tidak mau, dan memintanya untuk berpikir dahulu sebab keyakinan tidak boleh dipaksakan dan harus dari hati nurani sendiri.

Setelah saya yakinkan bahwa atas kemauan sendiri, kemudian ia mengajarkannya dan mengajaknya ke desa untuk di Islamkan.

"Jadi saya masuk Islam bukan karena saya mau nikah dengan orang Islam atau dipaksa, tetapi murni atas kemauan sendiri," ujar Ibu satu anak ini.

Setelah masuk Islam, kata Damayanti, iapun akhir pacaran dengan sesama jejaka muslim dan akhirnya menikah pada tahun 2005.

Pada saat ia masuk Islam seluruh keluarga besarnya marah dan menentang, sebab baru dirinya yang pertama masuk Islam.

Selain itu, iapun telah dijodohkan sesama pemuda dari suku yang sama.

Dan ketika ia menikah, keluarganya tidak mau datang, dan jika mau datang keluarga pria harus menuruti adat sukunya yang biayanya cukup besar.

Namun tekadnya sudah bulat ia akan tetap menikah secara Islam.

Setelah menikah, kata anak keenam dari sembilan bersaudara ini, awal pernikahannya baik-baik saja, namun ketika usia pernikahannya mencapai enam tahun, bahtera rumah tangganya sempat diterpa badai, karena suaminya sering uring-uringan karena dirinya tidak bisa memberikan keturunan.

Dengan ujian yang dihadapinya ini, Damayanti tetap mempertahankan keislamannya.

Dan ia pun menjalani hidup seperti biasanya namun dalam tekanan batin sebab belum mempunyai momongan.

Iapun rajin berobat mulai dari pengobatan medis hingga berobat kampung untuk meminta momongan tetapi hasilnya nihil.

Dalam keputusasaannya, akhirnya ia pasrah dan berserah diri secara total kepada Allah, meminta momongan jika dipercaya.

Kemudian iapun berpuasa satu bulan penuh, dan alhamdulilah setelah menunggu penantian 12 tahun lamanya, ia ternyata bisa hamil.

Dan tepat tanggal 5 Maret 2018, ia diberikan momongan anak perempuan yang diberi nama Duci Defira.

Dan semenjak anaknya lahir, kini kondisi rumah tangganya harmonis kembali, terutama suaminya sangat sayang dengan anaknya yang sudah lama diharapkan.

"Punya anak itu ternyata sangat kaya, tidak bisa dinilai dengan uang. Jadi bersyukurlah bagi yang punya anak, dan bersabarlah dan tetap berusaha bagi yang belum mempunyai anak. Karena anak adalah titipan, mungkin belum diberikan kita belum siap menjaga titipan tersebut," pungkas yang bertekad sampai mati akan teguh dengan Iman Islam.

Baca: Prada Asep Sumbang 2 Medali Emas untuk Kodam II/SWJ dari PORAD ke VIII Tahun 2018

Baca: Xiaomi MI A2 dan Xiaomi MI A2 Lite Resmi Masuk Pasaran di Indonesia, Ini Perbedaan Keduanya

Baca: Pelajari Estetika, Siswa Perlu Diperkenalkan Seni Budaya

Baca: Dapat Kabar akan Ada Penyerangan, Unit Reskrim Polres Empatlawang Amankan 11 Orang

Baca: Masyarakat Puas dengan Perbaikan Jembatan Ampera Nggak Nyangka Jadi Cantik

Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help