Berita Ogan Ilir

Musim Kemarau di Ogan Ilir Warga Krisis Air, Alimuddin: Lemak Katek Beras, Daripado Katek Banyu!

Memasuki musim kemarau, warga Indralaya Kabupaten Ogan Ilir (OI) dan sekitarnya mulai kesulitan air karena aliran air

Musim Kemarau di Ogan Ilir Warga Krisis Air, Alimuddin: Lemak Katek Beras, Daripado Katek Banyu!
SRIPOKU.COM/BERI SUPRIYADI
Musim panas melanda kawasan Indralaya dan sekitarnya menyebabkan aliran sungai nampak mengecil. Sehingga warga pun kesulitan mencari air bersih. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Beri Supriyadi

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Memasuki musim kemarau, warga Indralaya Kabupaten Ogan Ilir (OI) dan sekitarnya mulai kesulitan air karena aliran air mulai mengecil sehingga mengakibatkan sumur galian milik warga mengering.

Hal ini diungkapkan Alimudin (53), salah seorang warga Desa Sakatiga Seberang Indralaya, Selasa (24/7/2018). Kondisi seperti ini hampir setiap tahun terjadi setiap memasuki musim panas hingga musim panas berakhir.

"Setiap musim kemarau pasti seperti ini. Soalnya warga Sakatiga sebagian mengandalkan air sumur galian dan air sungai Kelekar (anak sungai Ogan)," ujar Alimudin.

Selain itu, saat musim panas stok air warga di Sakatiga (penampungan air hujan) juga habis. Jika musim panas melanda dalam jangka waktu yang cukup lama, dirinya akan mengambil air di lokasi tempat penampungan milik pemerintah (Pamsimas).

"Jadi hanya mengandalkan sumur bor Pamsimas. Itu pun jumlahnya terbatas. Karena warga yang mengambil air dalam jumlah banyak. Jadi sangat susah mencari air kalau musim kemarau. Kalau dipikir-pikir lemaklah dak katek beras dari pado dak katek banyu," seloroh Alimudin.

Baca:

Terjadi Kebakaran, Tiga Rumah Warga di Lokasi Hiburan Malam Merapi Timur Lahat Rata Dengan Tanah

Kerusuhan di Dua Stadion Tanah Andalas Dipicu Kekecewaan Terhadap Manajemen

Alimudin menambahkan, perbandingannya kalau tidak ada beras, bisa dicari dan dibeli di warung. Nah, kalau tidak ada air, mau mencari kemana?.

Sementara air yang ada di aliran sungai nampak mengecil. Lanjut Ali, di daerahnya juga tidak ada aliran PDAM, cuma mengandalkan air sumur gali dan air hujan saat musim hujan.

"Setiap Kepala Keluarga disini bagi yang berduet sebagian besar mengandalkan air sumur bor. Tapi kebanyakkan cuma mengandalkan air sumur gali dan air sungai," katanya.

Ia mengatakan, untuk membuat sumur bor, biaya tidak sedikit untuk satu kali pemasangan sumur bor biasanya sangat mahal bisa mencapai Rp 6-7 juta.

Berdasarkan pantauan Sripoku.com, warga Indralaya yang mengalamk kesulitan air selama musim kemarau rata-rata warga yang berdomisili di kawasan daerah yang tinggi dan jauh dari aliran sungai.

Senada diungkapkan Yadi (30), warga Indralaya Utara mengatakan, sepertinya musim kemarau tahun ini terparah bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kemarau tahun ini sepertinya lebih parah. Bisa-bisa tiga bulan kedepan, terjadi kekeringan air yang disebabkan musim panas," katanya.(*)

Penulis: Beri Supriyadi
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved