Berita Pagaralam

Harga Telur di Pagar Alam Capai Rp 2.200, Disperindag Pagaralam Awasi Spekulan

Termasuk di Pagaralam, menurut para pedagang di Pagaralam harga saat ini merupakan harga tertinggi mencapai Rp 2.200 per butir

Harga Telur di Pagar Alam Capai Rp 2.200, Disperindag Pagaralam Awasi Spekulan
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Seorang ibu rumah tangga memilih telur ayam ras di Pasar 10 Ulu Palembang, Senin (29/12/2014). Menjelang tutup tahun 2014, harga telur utuh ini naik, dari Rp 17.000 menjadi Rp 18.500 per kg. Sementara telur yang pecah Rp 17.500. 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Wawan Septiawan

SRIPOKU.COM, PAGARALAM -- Sejak beberapa minggu terakhir harga telur terus mengalami kenaikkan, kondisi ini tidak hanya terjadi di satu tempat saja tetapi juga berlaku di seluruh Indonesia.

Termasuk di Pagaralam, menurut para pedagang di Pagaralam harga saat ini merupakan harga tertinggi mencapai Rp 2.200 per butir dari harga sebelumnya hanya Rp 1.150 per butir.

Harga telur per karpet pun mencapai Rp 50 ribu dari sebelumnya hanya Rp 35 ribu per karpet.

"Sudah sejak beberapa pekan terakhir, harga telur ayam melonjak cukup tinggi. Dalam satu karpet, biasanya kita beli Rp45 ribu, kini sudah tembus Rp50 ribu per karpet," ujar Hengki salah satu agen telur di Pagaralam.

Menurutnya, pihaknya tak mengetahui secara pasti, apa penyebab kenaikan harga telur begitu tinggi.

"Katanya kenaikan harga telur ini imbas dari permintaan telur meningkat. Anehnya lagi katanya akibat adanya Piala Dunia," katanya.

Menanggapi kenaikan harga telur, Kepala Disperindagkop UKM dan PP Kota Pagaralam, Saidi Amrullah melalui Kabid Perdagangan, Rano Fahlesi mengatakan, kenaikan harga telur terjadi secara menyeluruh di wilayah Indonesia.

"Kenaikan harga telur terjadi skala nasional bukan saja di Pagaralam, sekarang Menteri Perdagangan dan Pertanian sedang mencari akar permasalahannya. Diduga harganya naik karena kurangnya stok telur di pasaran," jelasnya.

Diduga salah satu penyebab dari lonjakan harga telur ayam, lantaran terjadi penurunan produksi ayam petelur. Kebanyakan indukan ayam petelur tak produktif lagi.

"Siklus pergantian ayam petelur yang produktif juga bisa menjadi faktor naiknya harga telur ini. Induknya, tetap ada tapi tidak berproduksi," katanya.

Pihak Disperindagkop Pagaralam akan tetap terus melakukan langkah pengawasan, sebagai upaya pencegahan jangan sampai spekulan bermain, dengan mencari kesempatan untuk menaikan harga di pasaran.

"Kami akan mengawasi permasalahan ini. Jangan sampai para spekulan bermain mencari kesempatan, untuk menaikan harga telur di pasaran, mengingat bila barang tidak ada, pastilah harga barang itu melejit. Tapi sekali lagi, kami akan mengawasi naiknya masih dalam kategori wajar, sembari menunggu hasil Kemendag dan pertanian, untuk menuntaskan suplay telur ini," tegasnya.

Baca: Daftar Jadwal dan Harga Tiket Lengkap Pertandingan Cabor Voli Pantai Asian Games 2018, Beli di Sini

Baca: 1.592 Pengurus TP-PKK se Kabupaten Musirawas Dilantik Serentak

Baca: Ikut Dibully, Anak Iis Dahlia Ungah Foto ‘Menangis’ Usai Ibunya Usir Peserta KDI, Ini Reaksi Netizen

Baca: Dulu Penari Hip Hop, Begini Karir & Pesona Fay Nabila, Pemeran Riska dalam Sinetron Orang Ketiga

Baca: Peringat HBA ke-58 dan HUT IAD ke XVIII, Kajari Lahat Utamakan Kepercayaan Masyarakat

Baca: Rupiah Sentuh Level Rp 14.545. Avialiani: Pelaku Ekonomi Jaga Cashflow Perusahaan

Baca: Dulu Diragukan! 5 Penyanyi Eks Ajang Pencarian Bakat Ini Makin Ngetop, No Terakhir Dijuluki Hot Mom

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help