Mimbar Jumat

Menumbuhkan Karakter Anti Korupsi

Korupsi telah menjadi penyakit yang sangat akut di negeri kita ini. Semakin ditindak, bukannya berkurang atau habis, tetapi semakin bertambah

Menumbuhkan Karakter Anti Korupsi
net/google
Ilustrasi 

Oleh : Ismail Sukardi

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah. (Istimewa)

SRIPOKU.COM - Korupsi telah menjadi penyakit yang sangat akut di negeri kita ini. Semakin ditindak, bukannya berkurang atau habis, tetapi semakin bertambah dan bertambah parah. Data kasus korupsi di Indonesia pada tahun 2017 saja misalnya ada 576 kasus korupsi dengan 1.298 tersangka --nilai kerugian negara Rp. 6,5 triliun. Pelaku korupsi bisa siapa saja, mulai dari pihak swasta, aparatur negara, anggota legislatif, kepala daerah, bahkan aparat penegak hukum.

Berita Lainnya:
Jaksa Pidsus Kejari Palembang Dalami Dugaan Korupsi Lift BPKAD Kota Palembang

Untuk kasus kepala daerah misalnya, dalam kurun waktu 13 tahun (2004 samai 2017), tidak kurang dari 392 Kepala Daerah yang telah tersangkut kasus korupsi. Jumlah yang luar biasa. Oleh karena itu selain penindakan kasus, pencegahan juga penting dilakukan, khususnya melalui jalur pendidikan dan dakwah keagamaan.

Dalam pandangan Islam, korupsi jelas sebuah perbuatan yang sangat dilarang, bahkan diharamkan. Menurut Islam terdapat sejumlah karakter utama yang perlu dimiliki dan terus-menerus ditanamkan kepada generasi penerus agar pikiran, sikap, dan perilaku anti-korupsi menjadi watak dan kepribadian serta perilaku mereka sehari-hari.

Jujur, Transparan, dan Akuntabel
Dalam sistem koruptif, kejujuran telah menjadi sesuatu langka. Kejujuran (honesty) bermakna: kualitas manusia yang menyatakan dan melakukan tindakan dengan benar dan patut semaksimal kemampuannya. Kejujuran berkaitan dengan kebenaran sebagai sebuah nilai. Termasuk di dalamnya adalah sesuainya antara pendengaran, penalaran, dan tindakan sesorang dengan pembicaraannya. Kejujuran adalah menyatakan fakta-fakta dan pandangan sebenar-benarnya sebagaimana adanya. Kejujuran meliputi kejujuran terhadap orang lain, terhadap diri sendiri (self-deception) dan tentang motif-motif pribadi serta realitas internal diri seseorang.

Dalam Islam, jujur adalah akhlak Islami yang merupakan salah satu perwujudan dari iman. Dalam Hadits disebutkan bahwa kejujuran menuntun seseorang ke surga, sebaliknya kedustaan menuntun orang ke neraka, sebagaimana sabda nabi SAW: Sesungguhnya kejujuran menuntun pada kebajikan dan kebajikan menuntun pada surga. Seseorang selalu berkata jujur sehingga menjadi orang yang jujur di sisi Allah; "sesungguhnya dusta menuntun pada keangkaramurkaan dan keangkaramurkaan menuntun ke neraka. Seorang selalu berkata dusta sehingga menjadi pendusta di sisi Allah" (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kadang-kadang jujur diidentikkan dengan konsep "benar". Imam Gozali menyatakan bahwa terdapat beberapa macam kebenaran Yaitu:
1) Benar dalam perkataan yakni menyatakan sesuatu dengan sebenarnya tanpa menambah atau mengurangi;
2) Benar dalam niat yakni berniat semata-mata karena Allah. Ini sama dengan ikhlas. Sedangkan orang yang tidak ikhlas sama dengan pendusta dalam niat.
3) Benar dalam Azam yaitu keinginan untuk melakukan sesuatu dengan sebenar-benarnya dilaksanakan tanpa ragu-ragu.
4) Benar dalam pelaksanaan Azam.
5) Benar dalam perbuatan yakni kesesuaian antara tindakan lahiriah dengan bathiniah. Kedustaan paling jahat adalah kedustaan yang dilakukan oleh pemimpin atau penguasa yang tidak menghargai tanggungjawabnya (Sabiq, 1994: 202)

Dalam pergaulan antar manusia, kejujuran adalah modal sosial dan ekonomi yang sangat berharga. Dalam dunia bisnis, misalnya, kejujuran menimbulkan kepercayaan (trust), sedangkan kepercayaan baik di pihak produsen, mitra bisnis, maupun konsumen akan menjaga kesinambungan kegiatan usaha. Ajaran Islam sangat menghargai aktivitas bisnis yang selalu menekankan kejujuran dalam hal bargaining sebagaimana yang diatur dalam Surah Al An’aam ayat 152, Surah Al Israa’ ayat 35, dan Surah Ar Rahmaan ayat 9.

Dalam konteks korupsi, kejujuran menjadikan seseorang tidak terdorong untuk melakukan tindakan korupsi. Barangkali kesempatan dan peluang untuk melakukan korupsi cukup terbuka, tetapi bagi orang jujur suara hati nurani untuk bertindak benar sesuai aturan jauh lebih berharga ketimbang kenikmatan materi yang bersifat sementara tetapi membuat dirinya hina baik dalam pandangan Tuhan maupun manusia. Sikap dan tindakan anti korupsi adalah bentuk kejujuran baik terhadap Tuhan, orang lain, maupun diri-sendiri. Pendek kata kejururan adalah etika yang menjadi komitmen manusia secara global menuju satu kemanusian, satu peradaban, dan satu masa depan. Kejujuran adalah prinsip etik yang pararel dengan agama sebagai antitesis terhadap kecurangan, kemunafikan, dan demagogi, terutama dalam bidang politik (Syamsuddin, 2002: 211).

Halaman
123
Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved